Arsenal kesulitan mencetak gol menjadi persoalan utama yang membayangi tim asuhan Renee Slegers menjelang laga Women’s Super League (WSL) di Stamford Bridge. Kekalahan atas rival utama, Chelsea, akan menjadi hasil yang sangat merugikan karena kompetisi baru berjalan sekitar empat pekan. Meski penilaian itu terdengar berlebihan, Arsenal sendiri tahu betul bahwa tertinggal lebih jauh di awal musim membuat perburuan gelar WSL menjadi jauh lebih berat.
Saat ini Arsenal sudah terpaut tujuh poin dari pemuncak klasemen Manchester City, walau masih menyimpan satu laga tunda. Dua hasil imbang beruntun melawan Crystal Palace dan Manchester United membuat start mereka musim ini tergores. Situasi ini bukan hal baru bagi klub asal London Utara tersebut, sebab pencarian gelar WSL mereka sudah berlangsung tujuh tahun, dan masalah ketajaman kembali muncul sebagai penghambat utama.
Arsenal Kesulitan Mencetak Gol Meski Dominan
Persoalan Arsenal bukan soal kemampuan menciptakan peluang, melainkan soal penyelesaian akhir. Dalam tiga laga pertama WSL musim ini, mereka melepaskan 56 tembakan tetapi hanya mampu mencetak dua gol. Angka itu menunjukkan ketidakseimbangan yang jelas antara dominasi permainan dan hasil akhir di papan skor.
Ketidaktepatan itu terlihat nyata dalam beberapa laga terakhir. Arsenal membutuhkan gol penyama kedudukan pada menit ke-95 untuk menahan imbang Manchester United 1-1. Di ajang Liga Champions, mereka juga baru bisa mengalahkan HB Koge lewat penalti pada menit ke-93 pada Selasa lalu.
Contoh paling mencolok terjadi dua pekan sebelumnya, ketika Arsenal mencatatkan 70 sentuhan di kotak penalti Crystal Palace dan menguasai bola hingga 79 persen, tetapi hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan tim yang baru promosi. Data tersebut mempertegas bahwa penguasaan bola yang besar tidak otomatis berbuah kemenangan bila penyelesaian akhir tidak tajam.
Kronologi dan Penyebab Hilangnya Ketajaman
Sejumlah pengamat menjagokan Arsenal untuk merebut gelar WSL musim ini karena mereka berinvestasi di bursa transfer. Dua pemain asal Jerman, Lisa Baum dan Selina Cerci, didatangkan untuk memperkuat lini serang. Namun, Arsenal juga kehilangan winger Timnas Inggris, Beth Mead, yang memilih bergabung dengan Manchester City.
Meski demikian, Slegers masih memiliki banyak opsi di lini depan. Ada nama Chloe Kelly, Olivia Smith, Alessia Russo, Stina Blackstenius, dan Caitlin Foord yang semuanya tersedia, ditambah kembalinya Michelle Agyemang yang diperkirakan pada paruh akhir musim. Dengan kedalaman skuad seperti itu, minimnya gol justru terasa semakin membingungkan.
Slegers menilai masalah ini lahir dari kombinasi beberapa hal. Menurutnya, ada detail dalam pengambilan keputusan dan eksekusi teknis yang perlu dibenahi, termasuk ketegasan di depan gawang. Ia juga menyoroti situasi apa yang dibangun tim, ruang mana yang ditempati pemain di kotak penalti, serta bagaimana pergerakan tanpa bola berjalan.
Pelatih asal Belanda itu menambahkan bahwa ancaman tidak hanya datang dari skema menembus pertahanan rapat. Momen serangan balik dan bola mati juga menjadi kesempatan bagi Arsenal untuk berbahaya, sehingga timnya tidak boleh hanya bergantung pada satu cara mencetak gol.
Dampak bagi Perburuan Gelar dan Kompetisi
Dalam konteks persaingan gelar, selisih poin menjadi masalah sensitif bagi Arsenal. Mereka tahu bahwa jika tertinggal lebih awal, mengejar ketertinggalan di WSL bukan perkara mudah, terutama karena Manchester City tampil konsisten sebagai pemimpin klasemen. Menghadapi Chelsea yang dikenal sebagai juara berulang, Sabtu atau Minggu nanti, Arsenal dituntut bisa melewati laga ini dengan hasil positif.
Slegers sendiri mengakui dua laga terakhir menjadi bahan evaluasi besar karena dominasi tidak berubah menjadi gol dan kemenangan. Ia menegaskan tetap percaya pada kualitas skuad dan gagasan permainannya, serta yakin timnya mampu menciptakan peluang dengan berbagai cara. Menurutnya, ketika semua itu mulai menyatu, hasilnya akan sangat baik, dan kunci utamanya ada pada detail di sepertiga akhir lapangan.
Tekanan ini juga berdampak pada suasana tim secara keseluruhan. Ketika gol tidak kunjung datang, kepercayaan diri pemain di depan gawang bisa menurun, dan itu berisiko menciptakan lingkaran masalah baru pada laga-laga berikutnya. Karena itu, laga melawan Chelsea menjadi momen penting untuk memutus tren negatif tersebut.
Mengapa Alessia Russo Tidak Selalu Bermain sebagai Striker?
Pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengapa Russo, penyerang nomor sembilan Timnas Inggris, tidak selalu dimainkan di posisi aslinya. Musim lalu, hanya striker Manchester City, Khadija Shaw, yang mencetak gol lebih banyak darinya di WSL, sementara di kompetisi Eropa Russo berada di posisi kedua di bawah Ewa Pajor dari Barcelona.
Namun, Slegers yang kerap memutar posisi Russo lebih memilih menempatkannya di peran nomor 10 pada suatu momen di semua laga WSL musim ini. Keputusan itu belum membuahkan hasil, karena Russo belum mencetak gol meski sudah melepaskan 11 tembakan, sepuluh di antaranya dari dalam kotak penalti.
Secara keseluruhan, Russo baru mencetak tiga gol dalam 507 menit saat bermain sebagai gelandang serang. Bandingkan dengan 21 gol yang ia cetak dalam 2.913 menit ketika dipasang sebagai striker di bawah asuhan Slegers. Ia memang menciptakan 1,42 peluang per 90 menit di peran nomor 10, lebih tinggi daripada saat bermain sebagai striker (1,27), tetapi jumlah tembakan, umpan di sepertiga akhir, dan tembakan dari dalam kotak penalti justru menurun.
Statistik lain yang mencolok adalah Russo dan rekan setimnya, Blackstenius, belum pernah berpadu secara langsung untuk mencetak gol ketika pemain Timnas Inggris itu bermain sejak awal di lini tengah. Melawan Manchester United, saat Arsenal tertinggal 1-0 dan berusaha menyamakan kedudukan, gol akhirnya lahir dari full-back Smilla Holmberg sementara Russo tetap bertahan di lini tengah.
Konteks Lebih Luas dan Langkah Berikutnya
Slegers menjelaskan alasan taktis di balik keputusannya melawan Manchester United. Ia memperkirakan timnya akan banyak menghabiskan waktu di area pertahanan lawan, sehingga ia mencari cara agar Arsenal tetap menciptakan ancaman sebesar mungkin di kotak penalti. Karena itulah Blackstenius dan Russo sama-sama diturunkan sejak awal sebagai ancaman ganda.
Ia menambahkan bahwa Russo memang diposisikan setinggi mungkin di lapangan karena dinilai mampu menjalankan kedua peran dengan baik. Slegers juga memuji Russo sebagai penyerang nomor sembilan yang fantastis, sementara Blackstenius dianggap sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Selain itu, Selina Cerci menjalani debut resminya dan menawarkan ancaman berbeda, terutama melalui permainan udara dan instingnya di kotak penalti.
Walau demikian, rencana memiliki dua penyerang nomor sembilan di kotak penalti untuk menerima umpan silang belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan. Selama masalah penyelesaian akhir belum teratasi, pertanyaan soal komposisi lini depan Arsenal akan terus muncul. Persaingan di puncak klasemen WSL juga semakin tidak memberi ruang bagi tim mana pun untuk kehilangan poin.
Secara keseluruhan, kesulitan Arsenal mencetak gol musim ini bukan disebabkan oleh kurangnya peluang atau kedalaman skuad, melainkan oleh eksekusi di sepertiga akhir lapangan. Data tembakan yang tinggi berbanding terbalik dengan jumlah gol, dan penempatan Russo di peran nomor 10 menjadi salah satu sorotan utama. Ditambah hasil imbang beruntun, situasi ini menempatkan Arsenal pada posisi yang tidak nyaman dalam perburuan gelar WSL.
Laga melawan Chelsea di Stamford Bridge pun menjadi titik uji sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa dominasi bisa dikonversi menjadi kemenangan. Jika ketajaman mulai kembali, Arsenal masih memiliki modal dan waktu untuk kembali menempel pemuncak klasemen. Sebaliknya, kegagalan memanfaatkan peluang berisiko membuat jarak dengan Manchester City melebar lebih jauh lagi.
