Roberto de Zerbi puji Bentancur secara terbuka setelah gelandang Uruguay itu menerima kartu merah dalam laga Tottenham melawan Manchester United. Meski harus bermain dengan sepuluh orang, Spurs berhasil mencuri satu poin lewat gol penyama kedudukan Dominic Solanke di menit tambahan waktu. Pujian tersebut justru lahir dari momen yang biasanya dianggap sebagai kesalahan fatal seorang pemain.
Kartu merah itu menjadi salah satu kejadian paling memicu emosi di Old Trafford. Bentancur diusir wasit pada menit ke-78 setelah menanduk wajah Luke Shaw. Bagi De Zerbi, insiden tersebut bukan sekadar pelanggaran, melainkan cerminan karakter yang menurutnya sudah lama hilang dari tubuh Tottenham.
Kronologi Insiden Kartu Merah Rodrigo Bentancur
Keributan bermula ketika Luke Shaw menjadi sasaran tekel sembrono dari Bentancur. Bek Manchester United itu kemudian berlari ke arah pemain Spurs tersebut dan mendorongnya keluar lapangan. Bukannya menahan diri, Bentancur justru merespons dengan menandukkan kepalanya ke arah wajah Shaw.
Kedua pemain langsung dipisahkan oleh rekan-rekan setim sebelum wasit Stuart Attwell mengeluarkan kartu merah kepada Bentancur, yang masuk sebagai pemain pengganti. Insiden ini terjadi pada menit ke-78, tepat ketika Tottenham dalam posisi tertinggal 1-0. Dengan demikian, Spurs harus melanjutkan pertandingan dengan sepuluh pemain.
Meski berada dalam situasi sulit, Tottenham mampu menyelamatkan satu poin lewat sundulan Solanke pada menit kedua masa tambahan waktu. Gol tersebut memaksa laga berakhir imbang 1-1 dan menghindarkan Spurs dari kekalahan. Namun, hasil itu tetap membuat Tottenham tanpa kemenangan di Premier League musim ini setelah enam pertandingan berjalan.
Alasan De Zerbi Puji Bentancur Meski Kartu Merah
Dalam konferensi pers usai pertandingan, De Zerbi puji Bentancur dengan pernyataan yang tidak biasa. “Saya cium Rodrigo dan saya ucapkan terima kasih,” ujar pelatih asal Italia itu. Ia menilai bahwa insiden tersebut justru membuat timnya bermain lebih berani dan penuh energi meski hanya dengan sepuluh pemain.
De Zerbi menegaskan bahwa Tottenham sempat bermain tanpa “darah” dan karakter seperti itu untuk waktu yang lama. Menurutnya, kartu merah Bentancur memicu reaksi yang dibutuhkan timnya untuk menyelesaikan pertandingan dengan semangat berbeda. Ia pun menyebut bahwa dengan sepuluh pemain, timnya justru tampil lebih berani.
Pelatih itu mengakui bahwa tindakan Bentancur adalah sebuah kesalahan, tetapi ia melihatnya sebagai tipe reaksi yang diperlukan Tottenham. Kepada Sky Sports, ia mengaku menyukai situasi yang muncul akibat kartu merah tersebut. Menurutnya, yang dibutuhkan timnya bukanlah kartu merah, melainkan keberanian untuk tidak menerima kekalahan.
“Saya cium Bentancur di ruang ganti karena kami butuh reaksi seperti ini, karakter seperti ini,” katanya kepada Sky Sports. “Sepak bola adalah karakter,” tegasnya. Kata-kata itu menegaskan bahwa De Zerbi memandang insiden tersebut sebagai pemicu semangat, bukan sekadar pelanggaran yang merugikan tim.
Dampak bagi Tottenham di Awal Musim
Tambahan satu poin di Old Trafford tidak banyak mengubah posisi Tottenham di klasemen. Spurs masih berada di zona degradasi dengan hanya mengumpulkan tiga poin dari enam pertandingan pertama musim ini. Ini menjadi salah satu awal musim terburuk dalam sejarah panjang klub.
Sepanjang sejarahnya, klub baru empat kali gagal meraih kemenangan pada enam laga pembuka sebuah musim liga. Selain musim ini, hal serupa terjadi pada 2008-09, 1955-56, dan 1912-13. Catatan itu menempatkan tekanan besar di pundak De Zerbi beserta seluruh pemainnya.
Dari sisi serangan, Spurs tampil cukup hidup tetapi kehilangan ketajaman di depan gawang. Mereka baru mencetak tiga gol, jumlah yang hanya lebih banyak daripada Coventry yang berada di peringkat ke-19. Ketidakmampuan memaksimalkan peluang menjadi salah satu penyebab utama rentetan hasil buruk tersebut.
Kualitas Permainan yang Jadi Harapan
Meski hasilnya belum memuaskan, penampilan Tottenham di Old Trafford memberi alasan untuk optimistis. Pada babak pertama, Spurs tampil cair dan bertempo tinggi sehingga membuat Manchester United kewalahan. Ini menjadi modal penting bagi tim yang masih dalam proses membangun kekuatan barunya.
De Zerbi menilai pertandingan itu sebagai momen pertama musim ini di mana timnya benar-benar tampil sebagai sebuah tim. Menurutnya, para pemain bermain untuk rekan setimnya, bertahan bersama, dan menyerang bersama. Ia ingin menjadikan karakter tersebut sebagai titik tolak perubahan ke arah yang lebih baik.
Pelatih berpaspor Italia itu mengaku sangat senang karena melihat semangat dan karakter yang tepat dari para pemainnya. Ia menegaskan ingin memulai kembali dari karakter, reaksi, dan perilaku yang ditunjukkan skuadnya di laga tersebut. Hal itu dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan diri tim yang tengah terpuruk.
Langkah Selanjutnya dan Konteks Lebih Luas
Sejumlah besar dana telah dikeluarkan Tottenham pada bursa transfer musim panas. Mereka membelanjakan lebih dari 250 juta poundsterling untuk mendatangkan sepuluh pemain baru ke dalam skuad. Namun, awal musim yang buruk membuat manajemen mengubah rencana persiapan tim.
Klub kemudian menggelar pemusatan latihan di Spanyol dengan cuaca hangat untuk mempercepat proses adaptasi. Tim diperkirakan berangkat ke Marbella pada hari Minggu dengan harapan skuad baru mereka bisa menyatu lebih cepat. De Zerbi menyebut bahwa target utamanya saat ini adalah membangun tim yang utuh.
Ia mengakui bahwa skuadnya berisi sekelompok pemain hebat, tetapi belum menjadi sebuah tim yang solid. Menurutnya, menjadi tim berarti bermain untuk rekan setim, menderita bersama, dan menyerang bersama. Hal seperti itu hanya bisa dibangun lewat kebersamaan serta waktu yang cukup.
Setelah laga di Old Trafford, Tottenham akan menghadapi Coventry yang baru promosi pada Senin, 19 Oktober. Setelah itu, mereka akan bertandang ke Chelsea pada Sabtu berikutnya. Dua laga tersebut akan menjadi ujian penting bagi usaha De Zerbi menumbuhkan karakter yang ia puji dari insiden Bentancur.
Insiden kartu merah Bentancur menjadi salah satu momen paling tak terduga bagi Tottenham musim ini. Alih-alih dikutuk, perilaku gelandang Uruguay itu justru dipuji De Zerbi karena dianggap mampu membangkitkan semangat juang timnya. Namun, perjuangan Spurs untuk bangkit dari zona degradasi masih panjang dan penuh tantangan.
Laga melawan Coventry dan Chelsea akan menjadi tolok ukur apakah “percikan” karakter yang muncul di Old Trafford bisa bertahan. Jika semangat itu mampu dijaga, Tottenham punya peluang keluar dari tekanan yang makin menumpuk. Sebab, tanpa kemenangan, pujian atas kartu merah sekalipun tak akan cukup menyelamatkan mereka dari keterpurukan.
