blog slot

Duet Kane dan Bellingham: Andalan Inggris di Tengah Masalah Lini Belakang

Timnas Inggris memang berhasil mengamankan posisi puncak Grup L setelah mengalahkan Panama 2-0 di New Jersey, tetapi performa mereka jauh dari meyakinkan. Di balik kemenangan itu, tersimpan sejumlah masalah serius di lini pertahanan, cedera beruntun di posisi bek kanan, serta kelelahan di lini tengah. Pelatih Thomas Tuchel hanya bisa berharap bahwa duet Kane dan Bellingham yang tengah bersinar akan terus menyelamatkan tim.

Masalah di Lini Belakang dan Bek Kanan

Panama mungkin sudah tersingkir tanpa mencetak satu gol pun dalam tiga pertandingan, tetapi mereka tetap mampu menciptakan peluang melawan Inggris. Pertahanan The Three Lions masih goyah dan rawan dihukum oleh serangan yang lebih tajam. Tuchel sadar betul timnya harus segera berbenah, terutama di sektor yang paling dikutuk: posisi bek kanan. Tino Livramento telah dipulangkan, Reece James cedera hamstring dan balap waktu agar fit untuk babak 16 besar, sementara Jarell Quansah mengalami keseleo pergelangan kaki saat melawan Panama. Meskipun Quansah tampak bergerak bebas setelah meninggalkan stadion, statusnya masih diragukan untuk laga melawan Republik Demokratik Kongo (DRC). Tuchel mungkin harus memikirkan ulang susunan pertahanan.

Duet Kane dan Bellingham yang Semakin Padu

Namun, kekhawatiran itu terbayar oleh perkembangan duet Kane dan Bellingham yang mulai menemukan ritme. Jika sebelumnya mereka sering bertabrakan di Euro 2024, kini keduanya sudah pintar berbagi ruang. Bellingham belajar kapan harus menusuk saat Kane turun ke belakang, dan kombinasi mereka semakin matang. Saat melawan Panama, mereka untuk pertama kalinya sejak September 2023 mencetak gol dari permainan terbuka berkat kerja sama apik. Bellingham menerima umpan silang dari Marcus Rashford, lalu mengirim bola ke Kane yang dengan sempurna menyundulnya masuk ke gawang.

Dua gol itu mempertegas bahwa duet Kane dan Bellingham adalah senjata utama Inggris. Keduanya telah mencetak lima dari enam gol tim. Sisanya? Kontribusi pemain depan lain masih kurang memuaskan. Ini wajar, karena setiap tim besar selalu memiliki bintang andalan. Brasil mengandalkan Vinícius Júnior dan Matheus Cunha, Argentina masih bergantung pada Messi, dan Prancis punya Kylian Mbappé plus deretan talenta seperti Ousmane Dembélé dan Michael Olise. Namun, Tuchel tak bisa menuntut Marcus Rashford, Bukayo Saka, Noni Madueke, Morgan Rogers, Anthony Gordon, atau Eberechi Eze untuk tiba-tiba bermain seperti superstar. Yang bisa ia lakukan adalah meminta mereka tampil lebih baik dalam sistem tim.

Peran Pemain Lain: Harapan yang Belum Terwujud

Morgan Rogers kurang efektif saat ditempatkan sebagai gelandang serang nomor 10. Tuchel tampaknya belum sepenuhnya percaya pada Eze. Gordon kesulitan ketika ruang geraknya di sisi kiri dibatasi. Saka memang punya dua assist, termasuk tendangan pojok yang menghasilkan gol Bellingham, tapi ketajamannya masih perlu ditingkatkan. Rashford memberikan sedikit harapan: ia tampak hidup setelah masuk menggantikan Gordon, tetapi penyelesaian akhirnya harus lebih klinis saat menghadapi DRC.

Tuchel menekankan pendekatan kolektif. Ia tidak suka serangan “gaya bebas” seperti yang terlihat di babak pertama laga persahabatan melawan Selandia Baru. “Kami ingin bermain dengan pola yang lebih terstruktur dalam unit-unit,” ujarnya. Ia juga kecewa saat melawan Ghana, ketika Kane dan Bellingham dinetralkan. Kane hanya menyentuh bola 19 kali, dan pertukaran umpan antara keduanya cuma tiga kali. Dalam situasi seperti itu, pemain sayap seharusnya bisa tampil lebih menonjol. Tuchel percaya bahwa Rogers, Gordon, Madueke, dan Saka akan menunjukkan kualitas mereka saat momen penting tiba.

Kesimpulan: Optimisme di Balik Duet Andalan

Inggris memang belum tampil sempurna. Pertahanan masih rapuh, cedera menghantui, dan pemain lain belum konsisten. Namun, selama duet Kane dan Bellingham terus produktif, mereka selalu punya peluang untuk mengalahkan siapa pun. Laga babak 32 besar melawan DRC pada Rabu mendatang adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa tim ini tidak hanya bergantung pada dua bintangnya. Jika pemain lain mulai “muncul” seperti yang diharapkan Tuchel, Inggris bisa menjadi ancaman serius di turnamen ini.

Exit mobile version