Manajer Tottenham Hotspur, Martin Ho, mendesak dukungan lebih besar untuk wasit Women’s Super League (WSL) setelah keputusan penalti kontroversial memengaruhi hasil derby melawan Arsenal. Arsenal menang 2-1 di Tottenham Hotspur Stadium pada Sabtu, dengan gol penentu berasal dari titik putih Alessia Russo pada menit ke-56. Ho menilai keputusan itu tidak seharusnya terjadi dan menyoroti kebutuhan wasit WSL akan dukungan serta pelatihan yang lebih baik.
Kekecewaan Ho tidak berhenti pada satu insiden. Ia mempertanyakan standar pengadilan pertandingan, keterbatasan wasit penuh waktu, dan tidak adanya VAR maupun teknologi garis gawang di WSL. Pernyataan itu muncul setelah laga besar ditentukan oleh keputusan yang dinilai berada di luar hukum permainan, sehingga sorotan terhadap kualitas wasit kembali menguat.
Kronologi Penalti yang Memicu Kritik
Insiden terjadi ketika tembakan Lisa Baum membentur tiang gawang. Bola lalu mengenai tangan Ella Morris, rekan setim Cathinka Tandberg di Tottenham, setelah Tandberg melakukan sapuan. Wasit Phoebe Cross menunjuk titik putih, dan penalti itu menjadi penentu kemenangan Arsenal.
Menurut Ho, situasi tersebut seharusnya tidak berbuah penalti. Ia menafsirkan aturan bahwa jika bola mengenai tangan setelah dimainkan rekan setim dan jaraknya hanya sekitar satu yard, faktor waktu dan jarak harus diperhitungkan. Ho menyatakan pemahaman itu ia peroleh dari pertemuan wasit pada awal musim.
Ho mengaku sempat bertanya kepada wasit di lapangan tentang dasar keputusan tersebut. Ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan saat pertandingan berlangsung. Karena itu, ia berencana menemui wasit setelah laga untuk memahami apa yang mereka lihat dan pertimbangkan.
Standar Wasit WSL Dianggap Memburuk
Ho menegaskan bahwa ia ingin memahami keputusan sebelum bisa menerimanya. Namun, ia merasa frustrasi karena keputusan kontroversial itu terjadi ketika hasil pertandingan sedang dipertaruhkan. Baginya, keputusan yang dinilai tidak sesuai hukum permainan menjadi lebih berat ketika langsung menentukan hasil.
Meski begitu, Ho tidak menutup mata pada kesulitan tugas wasit. Ia mengakui bahwa menjadi pengadil di WSL bukan pekerjaan yang mudah. Kendati demikian, ia menilai standar wasit WSL pada musim ini justru memburuk dibandingkan tahun sebelumnya.
Kritik Ho juga menyangkut konsistensi hukuman. Ia menyebut Tottenham mendapat dua kartu kuning pada babak pertama, sementara pemain Arsenal beberapa kali menarik kostum dan tidak mendapat sanksi. Menurutnya, ketidakseimbangan seperti itu menjadi bagian yang paling membuat frustrasi.
Dampak pada Hasil dan Kredibilitas Kompetisi
Keputusan penalti itu langsung memengaruhi hasil karena Arsenal menang dengan selisih satu gol. Bagi Tottenham, insiden tersebut terasa lebih menyakitkan karena terjadi dalam derby dan menjadi penentu kekalahan. Dampaknya tidak hanya pada poin, tetapi juga pada persepsi tentang keadilan pertandingan.
Kritik Ho menunjukkan bahwa persoalan wasit dapat berkembang menjadi isu kredibilitas liga. Ketika keputusan kontroversial muncul di laga besar, perhatian publik bergeser dari performa pemain ke kualitas pengadilan. Jika hal ini berulang, kepercayaan terhadap kompetisi bisa tergerus.
Dampak terbesar dalam laga ini adalah hilangnya poin bagi Tottenham akibat keputusan yang mereka anggap keliru. Ho menegaskan bahwa ia bisa menerima keputusan jika memahami alasannya. Namun, ketika penjelasan tidak didapat di lapangan, rasa frustrasi menjadi lebih sulit dihindari.
Keterbatasan Teknologi dan Wasit Penuh Waktu
Salah satu akar persoalan yang disorot adalah keterbatasan perangkat pertandingan di WSL. Liga ini belum menggunakan VAR maupun teknologi garis gawang. Selain itu, tidak semua ofisial bekerja penuh waktu, sehingga standar pengadilan dinilai belum setara dengan kebutuhan kompetisi elite.
Isu wasit penuh waktu juga bukan hal baru. Pada awal bulan ini, Guardian melaporkan bahwa penantian untuk memiliki wasit WSL penuh waktu diperkirakan berlanjut hingga 2029, meskipun ada tambahan pendanaan. Laporan itu menunjukkan bahwa persoalan sumber daya wasit tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Ho melihat dukungan dan pelatihan sebagai kunci perbaikan. Menurutnya, wasit perlu lebih banyak pembinaan serta akses menjadi penuh waktu. Tanpa itu, kontroversi dalam berbagai pertandingan berpotensi terus berulang.
Permintaan Dukungan dan Penugasan Wasit Elite
Ho secara khusus meminta agar wasit WSL mendapat lebih banyak dukungan dan kesempatan bekerja penuh waktu. Ia memahami adanya aturan yang kemungkinan membatasi wasit memimpin lebih dari satu pertandingan dalam satu akhir pekan. Namun, ia menilai aturan itu tidak boleh menghalangi penempatan pengadil terbaik di laga besar.
Ia mencontohkan Lisa Benn, wasit elite yang bertugas di sisi lapangan pada pertandingan tersebut. Menurut Ho, untuk laga sebesar derby melawan Arsenal, wasit dengan kualitas elite seharusnya ditempatkan sebagai pengadil utama di tengah lapangan. Hal itu menjadi bagian dari permintaannya agar WSL memberi dukungan lebih besar.
BBC Sport telah menghubungi WSL Football untuk meminta tanggapan atas kritik tersebut. Sampai berita ini ditulis, belum ada respons yang disebutkan. Permintaan Ho pun masih terbuka untuk dijawab oleh pihak penyelenggara liga.
Kesimpulan
Kontroversi penalti dalam derby Tottenham kontra Arsenal membuka kembali diskusi tentang kualitas dan dukungan untuk wasit WSL. Ho tidak hanya mempertanyakan satu keputusan, tetapi juga menyoroti standar, konsistensi, keterbatasan teknologi, dan minimnya wasit penuh waktu. Kritiknya menjadi pengingat bahwa pengadilan pertandingan membutuhkan sumber daya yang memadai agar kompetisi berjalan lebih adil.
Bagi WSL, pernyataan Ho menjadi tekanan untuk memperbaiki sistem pembinaan dan penugasan wasit. Tanpa dukungan yang nyata, kontroversi serupa berpotensi terus muncul dan mencuri perhatian dari pertandingan itu sendiri. Jawaban dari pihak liga akan menjadi penting untuk melihat arah perbaikan yang akan diambil.
