Masalah Celtic yang tengah menjadi sorotan mendapat tanggapan langsung dari manajer Martin O’Neill. Ia menyatakan setuju penuh dengan penilaian kapten Callum McGregor mengenai penyebab permainan tim tidak stabil. Menurut O’Neill, kritik sang kapten soal kontrol pertandingan dan penempatan pemain mencerminkan persoalan nyata yang harus segera dibenahi.
Pernyataan itu muncul setelah McGregor mengomentari hasil imbang 2-2 melawan Dundee United. Kapten berusia 33 tahun tersebut menilai Celtic kehilangan kendali dan menyebut beberapa momen dalam pertandingan terasa “agak seperti basket”. Konteksnya penting karena Celtic sedang menjalani periode tidak konsisten, dengan hanya tiga kemenangan dari sembilan laga terakhir, meski masih memimpin Liga Utama Skotlandia.
O’Neill akui masalah Celtic soal posisi penyerang
O’Neill awalnya mengaku belum mengetahui komentar McGregor secara rinci. Namun, setelah konteks pernyataan itu disampaikan kepadanya sebelum laga melawan Falkirk, ia langsung menyatakan kesepakatan. Ia menilai McGregor benar dalam menggambarkan persoalan yang membuat Celtic kehilangan kendali permainan.
Secara spesifik, O’Neill setuju bahwa Callum Osmand pada dasarnya adalah penyerang tengah. Ia menilai Osmand lebih cocok bermain bersama penyerang kuat di sisinya dan belum tentu bisa memimpin lini depan sendirian. “Saya sangat setuju bahwa Callum Osmand sebenarnya adalah penyerang tengah,” kata O’Neill, seraya menambahkan bahwa ia sudah menyampaikan hal itu di konferensi pers.
O’Neill juga menegaskan bahwa Camilo Duran adalah penyerang tengah murni. Karena itu, ia memahami mengapa McGregor menyoroti penggunaan pemain di posisi sayap. Menurut O’Neill, para pemain masih saling mengenal dan beradaptasi, sehingga ia menyebut situasinya “sesederhana itu” dan menyatakan kesepakatan total dengan sang kapten.
Kontrol permainan dan kritik McGregor
McGregor menyampaikan kritiknya setelah Celtic ditahan imbang 2-2 oleh Dundee United. Ia menyoroti momen ketika tim kehilangan kontrol, sesuatu yang tidak biasa bagi Celtic. Dalam pandangannya, penggunaan penyerang seperti Callum Osmand dan Camilo Duran di posisi sayap turut berkontribusi pada masalah tersebut.
Kritik itu bukan suara tunggal di ruang ganti. Bek Cameron Carter-Vickers sebelumnya juga menilai Celtic “terlalu acak” dalam permainan setelah kekalahan di derby Glasgow. Pernyataan kedua pemain senior ini menunjukkan bahwa persoalan kontrol dan struktur permainan sudah dirasakan di dalam tim, bukan sekadar penilaian dari luar.
Bagi O’Neill, kondisi itu tidak lepas dari proses adaptasi. Ia melihat para pemain perlu waktu untuk memahami satu sama lain, terutama karena beberapa dari mereka datang terlambat. Namun, ia tetap menegaskan bahwa tim akan memperbaiki diri seiring berjalannya musim.
Posisi di liga masih kuat, tekanan di Eropa meningkat
Di Liga Utama Skotlandia, Celtic masih memimpin dengan keunggulan empat poin. Jika menang atas Falkirk pada Minggu, mereka bisa memperlebar jarak menjadi tujuh poin karena Rangers bermain di Piala Liga. Dalam liga, juara bertahan itu baru sekali kalah, yaitu di kandang melawan Rangers.
Namun, catatan di Liga Europa memberi tekanan tersendiri. Celtic menelan tiga kekalahan dari tiga pertandingan, di tengah ketidakpuasan penggemar dan aksi boikot sejumlah laga oleh kelompok suporter Green Brigade. Kombinasi hasil domestik yang masih terjaga dan performa Eropa yang buruk membuat kritik terhadap cara bermain tim semakin menonjol.
O’Neill berusaha menempatkan situasi secara proporsional. Ia menilai tim masih melakukan hal yang cukup di liga dan dirinya biasanya merasa cukup optimistis setiap pekan. Ia juga meminta pihak luar tidak menciptakan perpecahan, karena menurutnya tim sedang berada dalam kondisi yang baik-baik saja.
O’Neill minta waktu dan menepis perpecahan
O’Neill menegaskan bahwa banyak pemain tidak menjalani pramusim bersama tim. Sejumlah pemain datang cukup terlambat, sehingga proses saling mengenal membutuhkan waktu. Karena itu, ia memilih untuk bertahan dan menilai tim saat ini sedang “bertahan” dalam menghadapi masa transisi.
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa O’Neill tidak melihat kritik McGregor sebagai konflik internal. Ia justru menjadikannya sebagai pengakuan bersama atas masalah yang harus diselesaikan. Dengan kata lain, fokusnya bukan pada perdebatan publik, melainkan pada perbaikan di lapangan.
Ke depan, laga melawan Falkirk menjadi ujian penting. Kemenangan akan memperkuat posisi Celtic di puncak klasemen dan memberi ruang bagi proses adaptasi tim. Sebaliknya, hasil buruk akan membuat sorotan terhadap masalah Celtic semakin besar, terutama karena tim masih mencari konsistensi di liga dan Eropa.
Singkatnya, O’Neill dan McGregor berada dalam satu pemahaman mengenai sumber masalah Celtic. Penempatan penyerang di posisi sayap, hilangnya kontrol, dan proses adaptasi pemain menjadi poin yang sama-sama diakui. Pernyataan O’Neill menunjukkan bahwa kritik kapten tidak ditepis, melainkan dijadikan dasar untuk pembenahan.
Yang menjadi pekerjaan rumah berikutnya adalah mengubah pengakuan itu menjadi perbaikan nyata di lapangan. Celtic masih punya modal berupa posisi puncak di liga, tetapi tekanan dari performa Eropa dan ketidakpuasan suporter tetap nyata. Hasil melawan Falkirk akan menjadi indikator awal apakah proses yang diminta O’Neill mulai berjalan.
