blog berita bola

Noel Mooney Kembali Desak Infantino Mundur dari Fifa

Noel Mooney kembali menyuarakan desakan agar Presiden Fifa Gianni Infantino mundur. CEO Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) itu menegaskan posisi organisasinya tidak berubah sejak menarik dukungan pada awal Agustus. Pernyataan ini muncul setelah Infantino mengklaim memiliki dukungan mayoritas dunia sepak bola di tengah polemik rencana penjualan saham kompetisi Fifa.

Desakan Mooney penting karena menyoroti perdebatan tata kelola di tubuh federasi sepak bola dunia. FAW tercatat sebagai negara pertama yang secara terbuka menolak mendukung pencalonan ulang Infantino sebagai presiden, sehingga sikap terbaru ini memperlihatkan ketegangan yang belum mereda. Uefa juga telah meminta Fifa membuka dokumen kunci dan menjawab pertanyaan soal pengambilan keputusan sebelum tenggat 2 November.

Desakan Noel Mooney agar Infantino Mundur Tetap Kuat

Mooney menyatakan FAW masih berpandangan bahwa Infantino seharusnya meninggalkan jabatan presiden Fifa. Sikap tersebut ia tegaskan setelah Infantino, dalam pernyataan pada akhir pekan, mengklaim mendapat dukungan dari “mayoritas besar” dunia sepak bola. Infantino juga disebut menanggapi dengan ringan pertanyaan apakah ia mempertimbangkan mundur akibat polemik penjualan saham kompetisi yang berkaitan dengan Piala Dunia.

Menurut Mooney, posisi FAW tidak berubah sejak organisasi itu menarik dukungan terhadap Infantino pada awal Agustus. Ia menegaskan bahwa langkah FAW bukan sekadar sikap sesaat, melainkan bagian dari penilaian terhadap cara federasi dunia dijalankan. Dalam pandangannya, tata kelola sepak bola global perlu ditinjau karena sistem yang ada tidak bekerja sesuai kebutuhan anggotanya.

Dalam wawancara dengan BBC Wales, Mooney menyoroti peran presiden Fifa sebagai penjaga moral permainan. Menurutnya, sosok yang memimpin federasi dunia semestinya selalu mengutamakan kepentingan terbaik sepak bola. Pernyataan itu memperjelas bahwa kritik FAW bukan hanya soal satu kebijakan, tetapi juga soal standar kepemimpinan yang diharapkan dari Fifa.

Latar Belakang Polemik FFE dan Tekanan pada Infantino

Gelombang desakan terhadap Infantino muncul setelah tersiar rencana kontroversial bernama Fifa Forward Enterprise (FFE). Proposal tersebut, yang mencuat pada Juli, berisi rencana menjual sebagian saham atau kepemilikan dalam kompetisi Fifa kepada investor swasta. Polemik ini kemudian dikenal sebagai persoalan penjualan aset Piala Dunia.

Infantino telah memimpin badan pengatur sepak bola dunia sejak 2016. Pada awal bulan ini, ia menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan Fifa terkait proses “komunikasi dan konsultasi” mengenai FFE. Permintaan maaf itu tidak serta-merta meredakan kritik karena sejumlah pihak menilai persoalannya lebih luas daripada sekadar komunikasi.

Uefa, badan sepak bola Eropa, meminta Fifa merilis dokumen-dokumen penting dan menjawab semua pertanyaan terkait tata kelola serta pengambilan keputusan. Tenggat yang diberikan adalah 2 November. Permintaan itu menunjukkan bahwa tekanan terhadap Fifa tidak hanya datang dari satu asosiasi nasional, tetapi juga dari konfederasi besar di Eropa.

Implikasi Kritik bagi Tata Kelola Fifa

Kritik Mooney memperlihatkan bahwa persoalan Fifa tidak berhenti pada sosok presiden. Ia menegaskan bahwa bagi FAW, yang perlu diperbaiki adalah keseluruhan sistem, bukan hanya pergantian orang di kursi kepemimpinan. Dengan kata lain, desakan mundur kepada Infantino menjadi pintu masuk untuk membahas pembagian kekuasaan dan mekanisme pengawasan di Fifa.

FAW menginginkan perubahan tata kelola sepak bola agar tidak ada satu orang yang memegang kekuasaan sebesar presiden Fifa. Mooney menyebut situasi itu “gila” dan menilai model kepemimpinan seperti itu perlu ditinjau ulang. Seruan tersebut menyiratkan bahwa reformasi tidak cukup dilakukan dengan pernyataan maaf, tetapi membutuhkan peninjauan menyeluruh.

Bagi Fifa, tekanan ini berpotensi memengaruhi kredibilitas proses pengambilan keputusan, terutama karena Uefa meminta dokumen dan jawaban resmi. Jika pertanyaan tentang FFE tidak dijawab dengan memadai, perdebatan bisa berlanjut ke isu kepercayaan anggota terhadap kepemimpinan Fifa. Dalam konteks itu, klaim Infantino bahwa ia masih memiliki dukungan mayoritas akan menjadi ujian, sebab kritik dari FAW dan permintaan Uefa menunjukkan belum semua pihak puas.

Konteks Lebih Luas: Ujian Kepercayaan bagi Fifa

Kasus ini memperlihatkan bagaimana isu tata kelola bisa menjadi sorotan utama dalam sepak bola internasional, bukan hanya soal pertandingan atau kompetisi. FAW menempatkan diri sebagai salah satu pengkritik paling awal terhadap kepemimpinan Infantino, bahkan sebelum tekanan dari Uefa mengemuka. Sikap itu memberi sinyal bahwa anggota Fifa dapat menuntut akuntabilitas lebih besar dari federasi dunia.

Mooney menilai FFE sebagai contoh buruknya tata kelola, rambu pengaman, dan penjagaan terhadap permainan. Ia juga merujuk pada permintaan Uefa untuk meninjau dokumen-dokumen seputar polemik FFE. Bagi FAW, fokusnya bukan semata pada siapa yang menjadi presiden, melainkan pada sistem yang membatasi kekuasaan dan menjaga kepentingan sepak bola.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada respons Fifa terhadap permintaan dokumen dan pertanyaan tata kelola sebelum tenggat 2 November. Selain itu, klaim Infantino tentang dukungan mayoritas akan diuji oleh sikap anggota yang selama ini menyuarakan kritik. Jika desakan FAW dan Uefa berlanjut, isu FFE bisa tetap menjadi agenda utama dalam diskusi tentang arah kepemimpinan Fifa.

Desakan Noel Mooney agar Gianni Infantino mundur mencerminkan ketidakpuasan yang lebih luas terhadap tata kelola Fifa. FAW menegaskan sikapnya tidak berubah sejak menarik dukungan pada awal Agustus dan menilai persoalan utama terletak pada sistem, bukan hanya pada individu. Polemik FFE, permintaan maaf Infantino, serta permintaan Uefa untuk membuka dokumen menjadi bagian penting dari rangkaian tekanan tersebut.

Dengan tenggat 2 November dan klaim dukungan mayoritas dari Infantino, perdebatan soal kepemimpinan Fifa belum menunjukkan titik akhir. Bagi publik sepak bola, isu ini menjadi pengingat bahwa tata kelola, transparansi, dan pembatasan kekuasaan sama pentingnya dengan keputusan di lapangan. Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana Fifa menjawab pertanyaan yang diajukan anggotanya.

Exit mobile version