blog slot

Tifo Ratko Mladic Red Star Kembali Warnai Derby Belgrade

Suporter Red Star Belgrade kembali memicu kontroversi dengan memajang tifo Ratko Mladic jelang kemenangan mereka atas Partizan Belgrade dalam derby, Minggu malam. Penjahat perang yang dijatuhi hukuman seumur hidup itu menjadi sorotan utama di tengah rivalitas dua klub terbesar Serbia. Ini bukan kali pertama nama Mladic muncul dari tribun Red Star, sehingga aksi tersebut langsung memancing reaksi publik.

Ratko Mladic adalah mantan komandan militer Serbia Bosnia yang meninggal dunia di penjara PBB pada Agustus lalu. Sepanjang kiprahnya, ia dianggap bertanggung jawab atas sebagian kekejaman terburuk dalam konflik di Balkan. Karena itu, kemunculan tifo dan penghormatan terhadap dirinya di stadion bukan sekadar aksi suporter, melainkan persoalan politik dan sejarah yang masih sangat sensitif.

Tifo Ratko Mladic Muncul di Derby Belgrade

Video unggahan akun media sosial Red Star memperlihatkan tifo bertema Ratko Mladic yang dipajang oleh suporter di tribun. Dalam video yang sama, dua tim juga terlihat melakukan hening cipta untuk Mladic sebelum laga dimulai. Red Star melengkapi unggahan itu dengan emoji memberi hormat, yang mempertegas makna penghormatan dari aksi ini.

Bagi penggemar sepak bola di Serbia, aksi semacam itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk nostalgia terhadap masa lalu. Namun, di mata korban perang Bosnia-Herzegovina, tifo tersebut adalah bentuk provokasi dan pelecehan terhadap ingatan mereka. Pasalnya, Ratko Mladic adalah sosok yang telah dihukum oleh pengadilan internasional, bukan sekadar tokoh sejarah yang kontroversial.

Mengapa Ratko Mladic Dihukum Seumur Hidup?

Pada 2017, Ratko Mladic dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Vonis tersebut dijatuhkan setelah ia terbukti menjadi salah satu aktor utama kampanye pembunuhan sistematis terhadap penduduk non-Serbia di Bosnia-Herzegovina. Hukumannya mencerminkan besarnya peran Mladic dalam perang yang berlangsung antara 1992 dan 1995.

Di bawah kendalinya, pasukan Mladic mengawasi pembantaian sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki di Srebrenica. Ia juga bertanggung jawab atas pengepungan Sarajevo yang menewaskan lebih dari 10.000 orang. Kedua peristiwa itu menjadi simbol kekejaman perang Yugoslavia dan terus dikenang hingga hari ini.

UEFA Sudah Memberi Sanksi, Tapi Aksi Terulang Lagi

Sebelum derby ini, Red Star sudah terkena denda 90.000 euro atau sekitar 77.000 pound sterling dari UEFA pada musim ini. Denda itu dijatuhkan setelah suporter Red Star menampilkan spanduk untuk mengenang Mladic saat laga play-off Liga Europa melawan Viktoria Plzen, klub asal Ceko, sebulan lalu. Kini, aksi serupa muncul lagi dalam laga yang digelar di kompetisi domestik.

Fakta bahwa aksi ini terjadi lagi setelah sanksi menunjukkan bahwa denda finansial saja belum cukup membuat klub berpikir dua kali. Red Star bahkan tidak segan menyebarkan momen kontroversial itu lewat akun media sosialnya. Hal ini meningkatkan tekanan pada UEFA maupun otoritas sepak bola Serbia untuk menangani perilaku suporter dengan langkah yang lebih tegas.

Reaksi Keras Bosnia-Herzegovina dan Publik

Reaksi paling keras datang dari akun resmi tim nasional Bosnia-Herzegovina. Akun X tim tersebut membalas unggahan Red Star dengan kata-kata kasar. Langkah ini memperlihatkan betapa besar kemarahan terhadap aksi yang dianggap menghina para korban perang.

Bagi Bosnia-Herzegovina, Mladic bukanlah sosok yang bisa dirayakan. Wilayah itu menjadi lokasi pembantaian Srebrenica, salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah Eropa modern. Maka, ketika tribun Red Star menampilkan tifo dan hening cipta untuk Mladic, rakyat Bosnia membaca pesan tersebut sebagai provokasi yang memperuncing ketegangan etnis yang masih tersisa hingga sekarang.

Dari Rumah Persembunyian hingga Pemakaman Mladic

Ratko Mladic sempat menghilang lebih dari satu dekade setelah perang berakhir. Sebelum masa pelariannya, ia menikmati perlindungan dari Slobodan Milosevic, presiden Serbia yang kemudian meninggal saat dirinya sendiri diadili atas genosida. Mladic akhirnya ditemukan bersembunyi di sebuah rumah pertanian terpencil dan diseret ke pengadilan.

Mladic meninggal dunia di penjara PBB pada Agustus lalu, sebelum akhirnya dimakamkan di Belgrade. Ribuan orang dilaporkan menghadiri pemakamannya di sebuah gereja pada Senin. Kehadiran massa itu menunjukkan bahwa bagi sebagian kalangan di Serbia, Mladic tetap dipandang sebagai pahlawan.

Pengulangan tifo Ratko Mladic di tengah derby Belgrade membuktikan bahwa luka masa lalu di Balkan belum benar-benar sembuh. Di satu sisi, aksi ini diterima oleh kelompok yang masih mengagumi Mladic; di sisi lain, ia adalah penjahat perang yang sudah divonis atas ribuan kematian. Tanpa langkah tegas dari klub dan otoritas sepak bola, kontroversi serupa kemungkinan besar bakal terulang di masa depan.

Exit mobile version