Jeremy Doku akhirnya buka suara setelah kontroversi kepergiannya dari kamp timnas Belgia selama Piala Dunia untuk mendampingi istrinya melahirkan. Penyerang Manchester City itu menegaskan bahwa ia tidak menentang jurnalis yang sebelumnya mengkritik keputusannya tersebut. Dalam video yang diunggah di kanal YouTube pribadinya, Doku juga meminta publik untuk tidak terlalu keras menghakimi jurnalis yang bersangkutan.
Kontroversi ini bermula sebelum turnamen dimulai. Istri Doku, Shireen, diperkirakan melahirkan pada pekan kedua Juli, dan Doku sudah menyampaikan niatnya untuk meninggalkan pemusatan tim jika momen itu tiba. Komentar tersebut kemudian memicu reaksi keras dari pembawa acara L’Equipe, France Pierron, yang menyebut seorang ayah yang hadir saat kelahiran anaknya sebagai sesuatu yang “benar-benar tidak berguna”.

Jeremy Doku Buka Suara: Saya Tidak Menentang Jurnalis Itu
Dalam video yang diunggahnya, Doku mengaku memahami mengapa sebagian orang mempertanyakan waktu kepergiannya. Baginya, situasi ini memang terlihat seperti terlalu sempurna untuk menjadi sekadar kebetulan. Karena itu, ia tidak heran jika banyak orang menganggap momen tersebut sudah diatur sedemikian rupa.
Doku juga menyampaikan bahwa ia sempat melihat bagaimana jurnalis tersebut berbicara tentang dirinya, sekaligus melihat banyak orang menyerangnya di media sosial. Alih-alih ikut menghujat, ia justru ingin mendoakan jurnalis itu. “Saya tidak ingin menyerangnya seperti yang kebanyakan orang lakukan,” kata Doku.
Ia menambahkan bahwa setiap orang berhak memiliki pendapatnya masing-masing. “Kita tidak tahu apa yang dia alami. Itu opini dia,” ujarnya. Doku juga menegaskan bahwa ia tidak marah dan tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa orang lain, termasuk jurnalis yang pernah mengkritiknya.
Awal Kontroversi: Kepergian Doku dari Kamp Belgia
Sebelum Piala Dunia bergulir, Doku sempat menyampaikan kepada Reuters bahwa ia berencana meninggalkan kamp pelatihan Belgia jika istrinya melahirkan. Ia mengambil keputusan itu meskipun saat itu Belgia mungkin masih berjuang di turnamen. Pernyataan inilah yang kemudian memicu komentar pedas dari France Pierron.
L’Equipe kemudian menyampaikan permintaan maaf dan menilai komentar Pierron “sangat jauh” dari nilai-nilai media tersebut. Pierron sendiri juga meminta maaf, tetapi ia ditarik dari tayangan hingga akhir musim acaranya. Meski begitu, Doku tidak merasa perlu menyimpan dendam terhadap Pierron.
Bagi Doku, reaksi keras yang diterima jurnalis itu justru membuatnya ingin melindungi. Ia menyadari bahwa publik bisa sangat cepat menghakimi, tetapi ia memilih untuk tidak ikut dalam arus tersebut. “Dia kehilangan pekerjaan dan semua hal itu. Saya tidak pernah menginginkan hal itu terjadi pada seseorang,” kata pemain berusia 24 tahun itu.
Doku di Piala Dunia dan Kelahiran Sang Putra
Di lapangan, Doku sempat bermain 86 menit dalam laga pembuka Belgia melawan Mesir di Grup G yang berakhir 1-1. Ia kemudian absen pada pertandingan berikutnya, dan saat itu ketidakhadirannya disebut karena sakit. Belakangan, Doku diketahui terbang ke London untuk menemani istrinya.
Doku akhirnya melewatkan laga Belgia yang berakhir tanpa gol melawan Iran di babak grup. Pada momen itu, ia memilih kembali ke Inggris untuk menyaksikan kelahiran putra pertamanya yang diberi nama Praise. Federasi Belgia kemudian merilis pernyataan resmi terkait kepergiannya.
Dalam pernyataannya, Belgia mengonfirmasi bahwa Doku melakukan perjalanan ke London untuk bertemu istrinya dengan persetujuan tim dan didampingi oleh salah satu dokter tim. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan Doku bukan diambil secara diam-diam atau melanggar aturan. Tim justru memberikan dukungan penuh kepadanya.
Kontroversi yang Membuka Diskusi soal Prioritas Atlet
Peristiwa ini tidak hanya berhenti pada Doku dan Pierron. Kontroversi ini membuka kembali perdebatan tentang bagaimana publik memandang peran ayah dalam momen keluarga. Seorang pemain dituntut membela negaranya di turnamen besar, tetapi di sisi lain ia juga punya tanggung jawab sebagai suami dan ayah.
Doku memilih untuk hadir saat kelahiran anaknya, dan ia menegaskan bahwa pilihan itu bukan sesuatu yang perlu disesali. Ia juga menunjukkan bahwa seseorang bisa berbeda pendapat dengan orang lain tanpa harus saling menjatuhkan. Pesan yang ingin ia sampaikan cukup sederhana: empati lebih penting daripada menghakimi.
Ke depannya, kasus seperti ini mungkin akan terus muncul di dunia sepak bola. Namun, sikap Doku bisa menjadi contoh bahwa atlet tetap bisa menjalani peran keluarga tanpa harus kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Yang terpenting, ia sudah mengambil keputusan yang paling tepat untuk keluarganya.
Kesimpulan
Jeremy Doku menegaskan bahwa ia tidak menentang jurnalis yang pernah mengkritiknya, meskipun komentar itu sempat menimbulkan kegaduhan besar. Ia memilih untuk mendoakan jurnalis tersebut dan meminta publik tidak terlalu keras menilai orang lain. Sikap ini menunjukkan kedewasaan Doku dalam menghadapi tekanan di tengah turnamen sebesar Piala Dunia.
Kini Doku bisa fokus kembali bersama tim dan menjalani peran barunya sebagai ayah. Kehadiran putranya, Praise, menjadi momen yang tak tergantikan meskipun harus membuatnya melewatkan satu pertandingan. Pada akhirnya, keluarganya tetap menjadi prioritas, dan Belgia pun menghormati keputusan tersebut.


















