Perjalanan Inggris di Piala Dunia 2026: Medali Perunggu di Tengah Kekecewaan
Timnas Inggris menutup Piala Dunia 2026 dengan finis di posisi ketiga dan meraih medali perunggu — pencapaian terbaik mereka sejak edisi 1966. Namun, meski sejarah tercipta, rasa kecewa masih menyelimuti skuad asuhan Thomas Tuchel. Kemenangan dramatis 6-4 atas Prancis di laga perebutan tempat ketiga memang mengharumkan nama Inggris, tetapi bayang-bayang semifinal yang menyakitkan melawan Argentina masih membekas. Inggris sebenarnya unggul hingga lima menit sebelum waktu normal berakhir, namun kemudian kebobolan dua gol dan tersingkir secara tragis.

Lantas, siapa pemain yang tampil gemilang? Siapa yang mengecewakan? Berikut rating lengkap seluruh 26 pemain, plus pelatih kepala dan asistennya, berdasarkan penampilan mereka sepanjang turnamen. Penilaian ini menjadi gambaran utuh soal performa pemain Inggris Piala Dunia 2026.
Kiper: Pickford Masih Kokoh, Namun Ada Celah
Jordan Pickford — 6/10
Pickford tidak mengalami turnamen yang istimewa, terutama setelah sukses adu penalti di edisi sebelumnya. Ia kurang maksimal saat kebobolan melawan DR Kongo dan Norwegia di fase gugur. Namun, penampilannya cukup apik saat melawan Meksiko di Azteca dan Argentina hingga dua gol penentu. Ia tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas tersingkirnya Inggris.
Dean Henderson — 6/10
Hanya mendapat kesempatan setelah Inggris kalah di semifinal. Ia melakukan beberapa penyelamatan bagus di babak pertama laga perebutan tempat ketiga, namun kebobolan empat gol di babak kedua bukan sepenuhnya kesalahannya. Henderson berpotensi menantang posisi Pickford di masa depan.
James Trafford — n/a
Sebagai kiper ketiga, ia hanya menikmati pertandingan dari bangku cadangan. Tidak ada cukup menit bermain untuk dinilai.
Bek: Konsistensi dan Kerentanan di Lini Belakang
Ezri Konsa — 6/10
Satu-satunya pemain Inggris yang starter di setiap laga sebelum semifinal. Tampak solid, namun kehabisan stamina di perempat final sehingga kehilangan tempat di laga melawan Argentina. Kembali bugar saat lawan Prancis dan mencetak gol. Kemitraan defansifnya dengan Marc Guehi bisa terus berkembang untuk Inggris ke depan.
Nico O’Reilly — 6/10
Untuk turnamen pertamanya, penampilannya cukup baik. Tidak ada pameran luar biasa, tapi ia mampu berada di area yang tepat dan minim kesalahan. Beberapa momen frustrasi yang panas, dan mungkin sempat dijatuhkan oleh Djed Spence di akhir turnamen. Tanda-tanda menjanjikan.
John Stones — 7/10
Meski tanpa klub saat itu, Stones masih bisa diandalkan. Ia tampil keluar-masuk skuad, namun melakukan blok krusial di menit-menit akhir melawan Meksiko dan sukses membungkam Erling Haaland saat lawan Norwegia. Ia juga sempat mengerjai Tuchel dengan pura-pura cedera bahu di ruang ganti.
Marc Guehi — 6/10
Turnamen yang solid untuk Guehi. Ia bekerja di bawah radar — hal yang diinginkan dari seorang bek. Berani menjegal di momen krusial, terutama saat bertahan di Azteca.
Dan Burn — 7/10
Sosok kultus. Tiga sundulan besar di turnamen: dua dari dalam kotaknya sendiri saat lawan Meksiko, dan satu sundulan penentu di detik-detik akhir lawan Norwegia. Tugasnya sederhana dan ia menjalankannya dengan baik.
Reece James — 6/10
Semua orang tahu ia akan cedera — dan benar saja. Bukan salahnya bahwa Inggris tidak memiliki pelapis yang memadai. Ia tampil lumayan saat bermain, tetapi tidak bisa diandalkan jika riwayat cederanya tidak membaik.
Djed Spence — 6/10
Tekelnya terhadap Argentina memang bagus, sayang hasil akhir tidak sesuai harapan. Ia mengejutkan banyak pihak dengan beberapa penampilan apik, termasuk larinya yang memusingkan saat melawan Prancis. Sahamnya naik, apalagi setelah lagu khasnya yang catchy.
Jarell Quansah — 5/10
Opsi bek kanan yang tidak buruk, namun ia kurang beruntung karena skorsing dua pertandingan tidak bisa dianulir. Ia harus belajar dari kartu merah saat lawan Meksiko, dan penampilan berikutnya lawan Prancis terlihat lambat dalam bereaksi.
Gelandang: Rice Kokoh, Bellingham Bersinar
Declan Rice — 7/10
Untuk mendapatkan versi terbaik Rice, ia butuh kondisi 100 persen. Namun ia tidak dalam kondisi prima. Meski demikian, ia punya momen gemilang dengan gol indah di laga perebutan tempat ketiga, plus tekel, sapuan, dan dorongan ke depan yang krusial. Ketidakhadirannya akibat sakit di laga lawan Norwegia menunjukkan betapa rentannya lini tengah Inggris tanpanya. Perannya sebagai bek kanan dadakan lawan DR Kongo juga mengubah permainan.
Jude Bellingham — 8/10
Bintang utama Inggris di turnamen ini. Pemain penentu. Pemecah rekor — tujuh golnya adalah yang terbanyak oleh pemain Inggris di turnamen besar mana pun. Bukan hanya gol, tapi dorongannya untuk membawa Inggris naik ke lapangan sangat penting, mengingat cara mereka tersingkir. Ia juga memberikan momen off-field terbaik: “Whatever.”
Elliot Anderson — 7/10
Nilai pasarnya meroket menjadi £116 juta selama turnamen. Meski belum mencapai level itu, ia menunjukkan beberapa momen menjanjikan. Lebih baik saat menekan tinggi — gol kedua lawan Meksiko menjadi sorotan — ketimbang melindungi lini belakang. Jika ini turnamen pertamanya, Euro 2028 setelah dua tahun bersama Man City seharusnya luar biasa.
Kobbie Mainoo — n/a
Sebuah teka-teki. Tidak dimainkan meskipun Rice bermasalah dengan kebugaran dan lini tengah Inggris kesulitan. Kemudian “cedera” untuk laga cadangan melawan Prancis setelah terlihat “demoralisasi”. Bukan pertanda baik setelah kebangkitannya di 2026.
Jordan Henderson — n/a
Hanya enam menit bermain melawan Panama. Satu kartu kuning sebagai pemain pengganti lawan Meksiko. Satu pergelangan tangan patah saat selebrasi di Azteca. Salah satu kisah cameo paling epik di Piala Dunia. Ia lebih berpengaruh di ruang ganti daripada Mainoo, meski tipis.
Trevoh Chalobah — n/a
Selamat untuk Trevoh yang akhirnya menjawab panggilan Tuchel sebagai pemain pengganti dadakan. Namun seharusnya Trent Alexander-Arnold atau bek kanan sungguhan yang dipanggil. Ia hanya mendapat lima menit di akhir laga perebutan tempat ketiga.
Penyerang: Saka dan Kane Bermasalah, Gordon Bersinar
Bukayo Saka — 7/10
Mungkin pemain Inggris paling frustrasi, dalam arti positif. Seperti final Liga Champions bersama Arsenal, ia jelas tidak fit sepanjang musim panas. Baik saat lawan Meksiko dan Norwegia, dengan tiga assist dalam 192 menit pertama. Setelah fase grup, ia tampil brilian melawan Prancis dengan hat-trick. Ia seharusnya starter lawan Argentina, namun Tuchel membuat kesalahan besar dengan tidak memainkannya. Semoga dia fit penuh di Euro 2028.
Harry Kane — 7/10
Sebelum laga lawan Norwegia, rating Kapten Inggris jauh lebih tinggi. Namun ia benar-benar hilang saat melawan Norwegia dan Argentina di momen genting. Tetap salah satu pencetak gol terbaik dunia, tapi berapa lama lagi ia bertahan di panggung besar internasional?
Marcus Rashford — 5/10
Memulai dengan baik lewat gol ke gawang Kroasia, namun tidak memanfaatkan kesempatan saat Anthony Gordon menurun. Tampak tajam lagi lawan Prancis, tetapi ditarik keluar di babak pertama membuat kontribusinya terlihat seperti sekadar cameo. Gordon telah merebut tempatnya di Barcelona dan timnas Inggris; ke mana Rashford akan melangkah?
Anthony Gordon — 7/10
Ia akan selalu dikenang karena golnya ke gawang Argentina. Awal turnamen lambat, namun pemain anyar Barcelona ini benar-benar mencapai puncak performa di babak gugur. Memenangi penalti di Meksiko, menjadi penyerang starter terbaik Inggris bersama saat lawan Norwegia, dan mencetak gol di semifinal.
Ollie Watkins — 5/10
Berkat performa akhir musim bersama Aston Villa, ia berhasil masuk skuad. Namun jelas ia tidak cukup meyakinkan Tuchel di latihan untuk mendapatkan menit bermain berarti. Hanya tujuh menit sebelum tersingkir di semifinal — dan menjadi striker pilihan ketiga di bawah Ivan Toney.
Noni Madueke — 5/10
Bermain lebih banyak dari perkiraannya, namun pamornya justru menurun. Ia berada di area yang tepat dan dipercaya rekan setim, tetapi penyelesaian akhirnya kurang. Hampir tidak ada kontribusi berarti setelah memenangi penalti di menit awal lawan Kroasia.
Eberechi Eze — 6/10
Sebagian besar tampil sebagai pemain pengganti dan kesulitan memberi dampak. Penampilan apiknya saat melawan Prancis — satu-satunya starter — menunjukkan potensinya jika diberi waktu lebih. Namun dengan Gordon dan Bellingham yang impresif, tidak ada ruang untuk tempat starter.
Ivan Toney — 5/10
Dipilih sebagai ahli penalti Inggris, namun tidak mendapat kesempatan mengeksekusi penalti. Hanya mendapat beberapa menit kacau lawan Argentina dan tidak banyak berbuat di satu-satunya start saat lawan Prancis.
Pelatih: Tuchel dan Barry di Bawah Sorotan
Thomas Tuchel — 6/10
Awal turnamen, semua orang memuji perubahan in-game Tuchel yang cemerlang. Tim talk di babak pertama lawan Kroasia, usaha mati-matian melawan Meksiko. Namun pelatih kepala Inggris itu justru gagal saat momen krusial — kebalikan dari apa yang diharapkan darinya. Tidak menurunkan Saka di semifinal, kemudian pendekatan defensif untuk mengamankan kemenangan — dan semuanya berbalik merugikan. Tuchel kini dalam tekanan.
Anthony Barry — 6/10
Untuk penampilan media, nilai 10/10. Ucapannya “We’re playing with broken hearts” saat jeda laga melawan Prancis sangat emas. Ia juga dalang di balik keputusan Rice bermain sebagai bek kanan lawan DR Kongo. Namun hal itu membuatnya sama bertanggung jawab atas keputusan taktis Inggris yang dipertanyakan.
Kesimpulan: Medali Perunggu, Tapi Rasa Penasaran Masih Tersisa
Piala Dunia 2026 menjadi ajang pembuktian bagi beberapa pemain dan ajang kekecewaan bagi yang lain. Jude Bellingham tampil sebagai bintang, sementara Bukayo Saka dan Harry Kane belum bisa tampil maksimal. Lini belakang cukup solid meski ada celah, dan keputusan taktis Tuchel patut dipertanyakan. Dengan fondasi yang ada, Inggris sebenarnya berpotensi lebih dari sekadar perunggu — namun pekerjaan rumah masih menanti menjelang Euro 2028.


















