Enzo Maresca memulai kiprahnya sebagai manajer Manchester City dengan cara yang nyaris sempurna. Empat kemenangan dari empat pertandingan membuat City berbagi posisi puncak klasemen Premier League bersama Arsenal, dan sinyal-sinyal awal menunjukkan kedua tim itulah yang kemungkinan besar kembali bersaing ketat memperebutkan gelar juara.
Pekerjaan yang diemban Maresca memang jauh dari kata ringan. Ia menggantikan Pep Guardiola, sosok yang membangun era paling gemilang dalam sejarah klub, sehingga tak mengherankan bila publik menyebut posisi ini sebagai salah satu pekerjaan tersulit di dunia sepak bola. Sejauh ini, Maresca justru tampak menjalaninya dengan tenang, bukan dengan terbebani.

Kemenangan di Old Trafford dan Modal Empat Laga Sempurna
Hasil paling penting sejak ia mengambil alih kursi manajer datang pada Minggu lalu, ketika City menundukkan rival sekota Manchester United 1-0 di Old Trafford. Kemenangan itu terasa semakin berharga karena City harus bermain dengan sepuluh pemain untuk sebagian besar pertandingan setelah Phil Foden mendapat kartu merah. Meski dalam kondisi tidak ideal, anak-anak asuh Maresca mampu menjaga keunggulan hingga peluit akhir.
Gol kemenangan lahir dari kaki Erling Haaland, striker yang menjadi andalan lini depan City musim ini. Ketika ditanya soal kontribusi Haaland, Maresca menjawab dengan nada jenaka. “Bagaimana bilangnya dalam bahasa Inggris? Happy wife, happy life. Bagi kami, happy Erling, happy life,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Yang tak kalah menarik adalah bagaimana para pemain mencerminkan ketenangan sang manajer di tengah tekanan pertandingan besar. Bukannya panik setelah kehilangan satu pemain, City tetap mempertahankan struktur permainan dan disiplin posisi. Sikap tenang inilah yang dinilai menjadi aspek paling mengesankan dari beberapa pekan pertama Maresca di Etihad Stadium.
Belajar dari Laga yang Sama Setahun Silam
Ketenangan Maresca di Old Trafford tidak muncul begitu saja. Ia sempat menengok kembali ke September tahun lalu, saat kiper Robert Sanchez—yang kala itu membela Chelsea, klub yang dilatih Maresca—diusir dari lapangan baru lima menit pertandingan berjalan di stadion yang sama. Kekalahan itu ia singgung sendiri usai laga melawan Manchester United akhir pekan lalu.
Malam itu, Maresca terpaksa melakukan perubahan dan terlihat kehilangan ketenangan. Ia menarik dua pemain hanya dalam tujuh menit pertama, praktis mengubah formasinya menjadi lima bek, tetapi tetap tidak mampu mempertahankan hasil akhir. Pengalaman pahit itu rupanya menjadi pelajaran berharga bagi sang pelatih.
Setahun kemudian, pendekatannya berubah total. Maresca memilih mengukur situasi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan besar, lalu menggeser Rayan Cherki ke sisi kanan. Ia baru menarik Cherki pada jeda babak dan memasukkan Iliman Ndiaye—sebuah penyetelan taktis yang dinilai berperan penting dalam menjaga kemenangan.
Keluar dari Bayangan Guardiola
Gaya Maresca di depan media juga kontras dengan pendahulunya. Guardiola sering terlihat seolah lebih memilih berada di tempat lain ketimbang duduk di kursi konferensi pers, sementara Maresca tampil rileks dan kerap melontarkan candaan. Perbedaan itu membuat suasana ruang pers City terasa jauh lebih ringan dalam beberapa bulan terakhir.
Saat masih menangani City pada Mei lalu—bulan terakhirnya di klub—Guardiola pernah ditanya saran apa yang ia berikan untuk penggantinya. Jawabannya singkat: “Jadilah diri sendiri.” Maresca tampaknya mulai menerapkan pesan itu dan perlahan keluar dari bayangan sang legenda.
Perbedaan karakter keduanya juga terlihat di pinggir lapangan. Guardiola kerap melompat dan berteriak di area teknis, sedangkan Maresca cenderung berdiri tenang dengan tangan terlipat. Perubahan paling mencolok justru terjadi di sesi latihan, di mana ia memasang musik house dengan volume keras—yang oleh Maresca sendiri digambarkan bertipe “boom, boom, boom”—agar para pemain merasa lebih senang sekaligus bekerja lebih baik.
Kapten baru Ruben Dias mengungkapkan dalam wawancara dengan BBC Sport bahwa Maresca memang membawa gagasan-gagasan segar, meski fondasi permainan tim tetap sama seperti era Guardiola. “Jelas ada banyak hal, mulai dari sesi latihan hingga detail soal cara kami menekan dan bertahan, yang merupakan ide Enzo,” kata Dias. Menurutnya, banyak hal telah berubah, tetapi ada pula kesinambungan dalam cara tim bermain, dan semuanya masih sangat mirip dengan kebiasaan yang selama ini dipegang klub.
Bayang-Bayang Moyes dan Beban Menggantikan Sosok Legendaris
Sejak awal kedatangannya, Maresca tak bisa lepas dari perbandingan dengan kasus David Moyes yang menggantikan Sir Alex Ferguson di Manchester United pada 2013. Dalam konferensi pers perkenalannya, pria berusia 46 tahun itu menyebut nama Ferguson dan Arsene Wenger, seraya mengingatkan bahwa banyak klub “sedikit kesulitan” setelah ditinggalkan manajer yang sudah lama menangani mereka.
Perbandingan itu terasa relevan karena Moyes hanya bertahan sepuluh bulan sebelum akhirnya dipecat. Namun Maresca tampaknya tidak melihat situasinya sebagai beban, melainkan sebagai “tantangan” sekaligus “kehormatan” bisa meneruskan warisan Guardiola di City.
Pada masa pramusim, Maresca mengakui bahwa nama mantan bosnya akan terus disebut-sebut oleh media. Meski begitu, ia menepis narasi tersebut dengan menegaskan bahwa hal itu “tidak memberi tekanan” kepadanya. Ia sadar harus langsung menunjukkan hasil di Etihad Stadium, terutama karena dirinya disebut sebagai satu-satunya figur yang dibidik City untuk mengisi posisi itu.
Perjalanan awalnya pun tidak sepenuhnya mulus. City membuka musim dengan kekalahan 3-0 dari Arsenal di Community Shield, sebuah hasil yang nyaris terlupakan sekarang. Setelah itu, tim bangkit dengan lima kemenangan beruntun, termasuk kemenangan di ajang Liga Champions saat bertandang ke Porto. City juga melakukan perubahan besar pada komposisi skuad selama musim panas, sehingga wajah tim musim ini terbilang baru.
Agenda Berikutnya dan Ujian Sesungguhnya
Langkah berikutnya sudah menanti dalam waktu dekat. City memulai pertahanan gelar Carabao Cup dengan menjamu Norwich di Etihad pada Kamis pukul 19.30 waktu setempat, lalu tiga hari kemudian menjamu Sunderland di ajang Premier League. Dua laga kandang itu menjadi kesempatan emas untuk memperkuat momentum.
Andai mampu menyapu bersih kedua pertandingan tersebut, Maresca akan mencatatkan awal kiprah yang nyaris sempurna di salah satu pekerjaan paling menantang di dunia sepak bola. Ia sudah menaklukkan Manchester United di kandang rivalnya sendiri, dan konsistensi menjadi kunci berikutnya.
Seberapa jauh City bisa melaju musim ini tentu masih terlalu dini untuk diprediksi. Namun indikasi awal menunjukkan bahwa peralihan dari Guardiola ke Maresca berjalan jauh lebih mulus dibandingkan banyak perkiraan orang.
Kesimpulan
Maresca mewarisi posisi yang penuh tekanan, tetapi empat kemenangan dari empat laga serta kemenangan dramatis di Old Trafford memberinya kredibilitas sejak awal. Kemampuannya menahan diri, belajar dari pengalaman pahit setahun lalu, dan membawa suasana baru ke ruang ganti menjadi pembeda dari pendahulunya.
Dengan dua laga kandang menanti, Maresca punya peluang besar untuk membuktikan bahwa ketenangannya bukan sekadar kebetulan. Jika tren ini berlanjut, narasi soal “pekerjaan mustahil” di Manchester City perlahan bisa berubah menjadi cerita tentang transisi yang berhasil.




