Robbie Savage resmi diperkenalkan sebagai manajer baru Peterborough United pada Jumat, menggantikan Luke Williams di kursi kepelatihan klub yang akrab dijuluki Posh tersebut. Pria berusia 51 tahun itu kini melangkah ke kompetisi League One setelah sebelumnya menangani dua klub di level bawah piramida sepak bola Inggris. Ini menjadi pengalaman pertamanya memimpin sebuah tim di level EFL.
Penunjukan Robbie Savage sebagai manajer Peterborough United bukan sekadar pergantian pelatih biasa, karena Posh saat ini tengah terpuruk di posisi kedua dari bawah klasemen League One. Direktur klub, Iain Crawford, menyebut keputusan ini sebagai “big swing” yang diperhitungkan, bukan taruhan sembarangan. Barry Fry, sosok yang sudah lebih dari 30 tahun terlibat di Peterborough, bahkan menyambut kedatangan Savage dengan penuh antusias dan memprediksi babak baru klub tidak akan membosankan.
Jejak Karier Robbie Savage Menuju Kursi Pelatih League One
Sebelum terjun ke dunia kepelatihan, Savage lebih dulu dikenal sebagai gelandang timnas Wales yang pernah memperkuat sejumlah klub besar Inggris, seperti Leicester, Derby, Blackburn, dan Birmingham. Setelah pensiun, namanya tetap melekat di dunia sepak bola lewat perannya sebagai komentator dan pengulas di berbagai kanal penyiaran. Jalur itu membuatnya punya wawasan luas soal bagaimana tim-tim di berbagai level bertanding.
Langkah pertamanya sebagai manajer dimulai sekitar dua tahun lalu, ketika ia ditunjuk menangani Macclesfield FC, klub yang dibentuk kembali setelah Macclesfield Town dilikuidasi pada 2020. Klub itu berlaga di Northern Premier League Premier Division, kompetisi tingkat ketujuh dalam piramida liga Inggris. Satu-satunya musim yang ia jalani berbuah manis: Macclesfield mencetak 109 gol dan mengumpulkan 109 poin sekaligus memastikan promosi ke National League North.

Setelah itu Savage memilih tidak melanjutkan kiprahnya di Macclesfield dan bergabung dengan Forest Green Rovers pada Juli 2025. Bersama klub asal Gloucestershire itu, ia membawa timnya menembus babak play-off, meski perjalanan akhirnya terhenti di tangan Boreham Wood. Ketika ia hengkang, Forest Green berada di posisi ke-13 setelah 11 pertandingan, dengan catatan empat kemenangan, tiga hasil imbang, dan empat kekalahan. Perjalanan dari liga tingkat ketujuh hingga menjadi bos di League One itu hanya memakan waktu 836 hari.
Alasan Peterborough United Berani Mengambil Taruhan Besar
Ketua Peterborough United, Darragh MacAnthony, tidak menyembunyikan kegembiraannya atas kedatangan Savage. Menurutnya, kepribadian, karakter, dan pola pikir Savage adalah hal yang dibutuhkan klub dari atas sampai bawah saat ini. Ia juga menegaskan tidak akan ada orang yang bekerja lebih keras daripada Savage untuk mengembalikan performa tim.
MacAnthony mengaku jajaran direksi terkesan dengan proses wawancara yang panjang sebelum keputusan diambil. Ia menilai rasa lapar Savage untuk membenahi masalah tim dan memulihkan kepercayaan diri skuad yang berbakat menjadi daya tarik utamanya. Harapan besar itulah yang membuat klub yakin mengambil langkah ini.
Direktur klub, Iain Crawford, mengakui bahwa Peterborough sebenarnya bisa memilih jalan yang lebih aman dengan menunjuk kandidat lain. Menurut dia, sebagian besar kandidat itu kemungkinan besar mampu membawa tim naik peringkat, tetapi ada batas maksimal yang bisa dicapai. Bersama Savage, Crawford meyakini batas itu tidak ada, sehingga klub memutuskan untuk mengguncang gaya bermain dan atmosfer tim secara menyeluruh.
Gaya Main “Relentless” dengan Formasi 4-2-3-1
Reporter BBC Radio Gloucestershire yang mengikuti Forest Green, Paul Furley, menyebut kata paling tepat untuk menggambarkan gaya sepak bola Savage adalah “relentless” atau tanpa henti. Gambaran itu sejalan dengan keinginan Savage sendiri saat diperkenalkan sebagai bos Posh. Ia mengaku menyukai sepak bola menyerang yang menghibur, dan lebih memilih menang 5-4 ketimbang 1-0.
Menurut Furley, Savage sangat menggemari formasi 4-2-3-1. Pada satu-satunya musim penuh yang ia jalani di Forest Green, jumlah gol yang dicetak timnya naik dari 69 menjadi 82 dibandingkan musim sebelumnya. Namun, jumlah gol yang kebobolan juga ikut meningkat, dari 42 menjadi 52, sehingga pendekatannya menuntut tim untuk siap bermain terbuka.
Dari pinggir lapangan, Furley menggambarkan Savage seperti tokoh yang tak bisa diam dan selalu bergerak. Ia dikenal senang menyampaikan instruksi kepada pemain secara singkat, serta terbiasa keluar lebih awal sebelum pertandingan untuk memancing sorakan penonton. Kedekatannya dengan suporter menjadi salah satu hal yang paling ia tekankan.
Selama di Forest Green, Savage disebut merombak skuad secara besar-besaran hingga hanya tersisa dua pemain inti dari era sebelumnya. Ia juga kerap menyebut upaya menekan beban gaji klub sebagai salah satu tugas yang diberikan kepadanya, sekaligus pencapaian penting yang berhasil ia raih. Pendekatan itu menunjukkan ia tidak hanya fokus pada hasil di lapangan, tetapi juga pada kesehatan finansial klub.
Dampak dan Tantangan di League One
Peterborough United saat ini berada di posisi kedua dari bawah League One, dan jendela transfer Januari masih sekitar tiga bulan lagi. Artinya, Savage belum bisa leluasa mendatangkan pemain baru dalam waktu dekat. Pendekatan yang ia terapkan di Forest Green kemungkinan besar membutuhkan kesabaran dari MacAnthony maupun para pendukung Posh.
Furley mengingatkan bahwa banyak orang menyoroti kebiasaan Savage yang seolah mendatangkan pemain baru setiap kali Forest Green kalah. Namun, sebagian besar dari pemain itu datang sebagai pinjaman atau direkrut dari level yang lebih rendah, lalu diberi kesempatan menjadi pesepak bola profesional penuh waktu. Cara seperti ini memang berisiko membuat tingkat keberhasilan langsung lebih rendah, tetapi dianggap baik untuk kesehatan pembinaan pemain secara keseluruhan.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan kecintaan Savage pada sepak bola di semua level, mulai dari Macclesfield, Forest Green, sampai League One yang kini ia jalani bersama putranya, Charlie, dan juga Premier League tempat ia dulu bermain serta menjadi pengulas. Kombinasi pengalaman sebagai pemain elite dan keterlibatan di kompetisi bawah menjadi warna tersendiri dalam kepemimpinannya. Tantangannya kini adalah menerjemahkan semua itu menjadi hasil nyata di papan klasemen.
Warisan yang Ditinggalkan di Macclesfield dan Forest Green
Penggemar Forest Green, Damian Ockham, menilai dampak Savage di luar lapangan justru meninggalkan kesan paling dalam. Ia menyebut Savage sangat baik kepada suporter, bersedia bertemu dan berbicara dengan banyak orang, serta terbuka dan jujur dalam menghadapi hasil baik maupun buruk. Meski sempat kesulitan pada masa transisi karena banyaknya pemain yang keluar-masuk, tim umumnya tetap memainkan sepak bola yang enak ditonton dengan energi tinggi, walau baru bagus sampai titik tertentu.
Dari sisi Macclesfield, pendukung sekaligus salah satu pembawa podcast National League Lowdown, Mark Sharpley, menyebut warisan Savage di klub itu benar-benar nyata. Rekor poin dan gol yang ia ciptakan tidak bisa dihapus dari sejarah klub, meskipun cara ia pergi sempat meninggalkan rasa kecewa. Menurut Sharpley, kehadiran Savage membuat perhatian publik langsung tertuju pada klub yang baru dibentuk ulang itu.
Sharpley juga menggambarkan Savage sebagai pribadi besar yang selalu bersedia berhenti untuk mengobrol dan menjabat tangan siapa pun. Sikap seperti itu membuatnya meninggalkan kesan mendalam bagi komunitas klub yang ia tangani. Kombinasi antara rekam jejak di lapangan dan kedekatan personal inilah yang membuat namanya tetap dibicarakan hingga kini.
Peran Pundit yang Tetap Dijalani
Meski kini resmi menjadi manajer Peterborough United, Savage tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai pundit. Ia tetap akan menjadi salah satu pembawa acara phone-in sepak bola 606 di BBC Radio 5 Live, dan dijadwalkan kembali mengudara pada edisi Minggu pukul 18.30 BST. Peran ganda ini menjadi hal yang tidak biasa bagi seorang manajer klub profesional.
Keberlanjutan karier sebagai komentator menunjukkan bahwa Savage ingin menjaga keterhubungannya dengan dunia sepak bola secara luas, tidak hanya dari kursi pelatih. Pengalaman mengulas pertandingan di berbagai level kompetisi bisa menjadi bahan berharga saat ia merancang strategi bersama Posh. Namun, peran ganda ini juga berpotensi menarik perhatian publik setiap kali hasil pertandingan Peterborough tidak sesuai harapan.
Kesimpulan
Kedatangan Robbie Savage ke Peterborough United adalah perjudian terhitung dari sebuah klub yang ingin keluar dari tekanan di dasar klasemen League One. Ia datang dengan rekam jejak singkat tapi mencolok bersama Macclesfield dan Forest Green, gaya bermain menyerang yang intens, serta kedekatan kuat dengan suporter. Tantangannya jelas: membangkitkan kepercayaan diri skuad dan meraih hasil nyata sebelum jendela transfer Januari benar-benar terbuka.
Bila gaya “relentless” ala Savage bisa diterjemahkan dengan baik di League One, Posh berpotensi tampil menghibur sekaligus kompetitif. Namun seperti kata Barry Fry saat menyambut kedatangannya, para pendukung Peterborough disebut sebagai orang-orang yang beruntung — dan sekarang tinggal menunggu apakah keberuntungan itu benar-benar terwujud di lapangan.





