Presiden UEFA Aleksander Ceferin memastikan diri akan mencalonkan kembali untuk masa jabatan keempat sebagai orang nomor satu di badan pengatur sepak bola Eropa tersebut. Keputusan itu ia sampaikan langsung di hadapan para delegasi dalam pertemuan seluruh 55 ketua asosiasi nasional di Berlin. Langkah ini sekaligus membalik pernyataan Ceferin sebelumnya yang menegaskan tidak akan mencari masa jabatan baru.
Pencalonan ulang Ceferin menjadi penting karena terjadi di tengah dinamika politik sepak bola dunia yang memanas. Dalam pertemuan yang sama, UEFA menegaskan kembali sikap menolaknya terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino, sekaligus mempublikasikan rencana 14 poin untuk mereformasi badan pengatur sepak bola dunia itu. Artinya, agenda kongres di Berlin bukan sekadar soal siapa yang memimpin Eropa, melainkan juga soal arah kepemimpinan FIFA pada periode berikutnya.

Pengumuman di Hadapan 55 Asosiasi Nasional
Ceferin menyampaikan niatnya secara langsung kepada para delegasi di Berlin, tempat seluruh ketua asosiasi nasional berkumpul. Keputusan itu disambut sebagai sinyal bahwa ia masih memegang kepercayaan mayoritas anggota di kawasan Eropa. Ia pun menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan yang diterima selama ini.
“Saya ingin berterima kasih kepada asosiasi nasional atas kepercayaan mereka,” ujar Ceferin. Ia menambahkan bahwa organisasinya telah menghadapi tantangan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir, dan semua itu dihadapi sebagai satu tim. Menurutnya, masih ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan, sehingga ia menerima permintaan untuk kembali mencalonkan diri.
Ceferin juga menegaskan bahwa ambisinya tidak berubah. Ia menyatakan ingin menjaga sepak bola Eropa tetap bersatu, membuat permainan ini lebih kuat, dan meninggalkan UEFA dalam kondisi siap menghadapi generasi berikutnya. Prioritas tersebut menjadi gambaran arah kepemimpinannya jika kembali terpilih.
Ceferin Presiden UEFA Berbalik Arah soal Pencalonan
Keputusan ini sebenarnya sudah lama diperkirakan banyak pihak, meski bertentangan dengan pernyataan Ceferin sendiri pada Februari 2024. Saat itu ia menegaskan tidak akan mengejar masa jabatan lagi. Penegasan tersebut muncul ketika ia tengah tersandung polemik terkait perubahan statuta UEFA yang memungkinkan dirinya menjabat hingga periode keempat.
Ceferin pertama kali terpilih sebagai presiden UEFA pada 2016. Sejak itu, perjalanannya di kursi kepemimpinan Eropa beberapa kali diwarnai perdebatan internal, terutama soal aturan masa jabatan. Polemik perubahan statuta menjadi salah satu titik yang membuat posisinya sempat dipertanyakan, bahkan oleh sebagian anggota yang biasanya mendukungnya.
Namun ekspektasi bahwa pria berusia 58 tahun itu akan tetap maju terus menguat. Dorongan tersebut semakin besar setelah UEFA melancarkan upaya untuk menyingkirkan Infantino dari kursi presiden FIFA. Situasi ini membuat pencalonan ulang Ceferin terasa sebagai langkah yang hampir pasti, bukan sekadar kemungkinan.
Rencana 14 Poin dan Sikap terhadap Infantino
Selain soal pencalonan, pertemuan di Berlin menghasilkan kesepakatan soal arah reformasi FIFA. UEFA bersama 54 asosiasi nasional menyepakati langkah tersebut, dengan Azerbaijan menjadi satu-satunya anggota yang tidak ikut menyetujui. Rencana ini diterbitkan dalam bentuk 14 poin yang menyoroti tata kelola organisasi.
Sebagian besar isi rencana UEFA berpusat pada tata kelola institusional, termasuk mengurangi sejumlah kewenangan langsung yang dimiliki presiden. Menurut UEFA, hal inilah yang sebelumnya melahirkan proposal Fifa Forward Enterprise yang dibahas di balik pintu tertutup. UEFA juga menekankan bahwa intervensi presiden maupun eksekutif harus dihilangkan dari badan pengawas yang menangani persoalan etika dan disiplin.
UEFA menambahkan bahwa tidak ada sumber daya FIFA yang boleh dipakai untuk kepentingan pribadi atau kepentingan elektoral. Dalam rencananya, dana tambahan minimal 10 juta dolar AS atau setara 7,5 juta poundsterling harus tersedia bagi masing-masing dari 211 asosiasi anggota. Menurut UEFA, reformasi kelembagaan saja tidak akan cukup untuk memperbaiki organisasi.
“FIFA juga membutuhkan kepemimpinan baru: sosok yang dihormati dan mampu menyatukan, berakar kuat dalam sepak bola, memiliki visi serta pengalaman untuk memimpin, mampu membangun kepercayaan lintas kawasan, dan berkomitmen tegas pada pembangunan, reformasi, integritas, serta independensi,” demikian pernyataan UEFA.
Dampaknya bagi Sepak Bola Eropa
Bagi sepak bola Eropa, keputusan Ceferin memberi kepastian kepemimpinan dalam waktu dekat. Asosiasi nasional yang menginginkan kesinambungan program cenderung menyambut langkah ini, karena perubahan pemimpin di tengah upaya reformasi FIFA berisiko memecah fokus. Namun, keputusan maju untuk periode keempat tetap membuka pertanyaan soal regenerasi kepemimpinan di tubuh UEFA.
Di sisi lain, langkah Ceferin memperkuat posisi UEFA dalam mendorong perubahan di FIFA. Ia memang telah menegaskan tidak akan mencalonkan diri melawan Infantino secara langsung, tetapi berkomitmen mencari kandidat yang bisa disatukan dukungan komunitas sepak bola. Dengan begitu, strategi UEFA lebih diarahkan pada pencarian figur alternatif ketimbang konfrontasi personal.
Bagi pembaca dan penggemar, implikasi paling terasa ada pada tata kelola kompetisi dan distribusi dana. Jika rencana reformasi UEFA berjalan, kekuasaan presiden FIFA akan lebih terbatas dan dana untuk asosiasi anggota berpotensi bertambah. Perubahan semacam ini biasanya berdampak panjang pada cara kompetisi, hak siar, dan pembinaan usia muda dikelola di berbagai negara.
Menuju Pemilihan Presiden FIFA pada Maret
Infantino dijadwalkan kembali mencalonkan diri sebagai presiden FIFA pada Maret mendatang. Hingga kini belum ada kandidat yang benar-benar dipastikan mampu menantangnya. Kondisi ini membuat peta persaingan di kursi kepemimpinan FIFA masih terbuka, tetapi belum terbentuk kekuatan penantang yang solid.
Mantan bek Tottenham Hotspur, Ramon Vega, menyatakan niatnya untuk maju. Meski demikian, belum jelas apakah ia mampu mengumpulkan lima surat dukungan yang diperlukan untuk sekadar masuk ke daftar kertas suara. Ambang dukungan tersebut menjadi salah satu hambatan struktural yang membuat kandidat alternatif sulit muncul.
Upaya UEFA untuk menggeser Infantino sendiri mendapat angin segar setelah ia membatalkan rencana kontroversial menjual sebagian saham kompetisi FIFA kepada investor swasta. Pembatalan itu terjadi setelah muncul penolakan luas dari berbagai pihak. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa tekanan kolektif dari asosiasi nasional bisa memaksa perubahan kebijakan, sekaligus menjadi modal bagi UEFA untuk mendorong agenda reformasi yang lebih luas.
Penutup
Keputusan Aleksander Ceferin untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden UEFA menandai babak baru dalam politik sepak bola Eropa. Ia membalik pernyataan sebelumnya, menerima permintaan asosiasi nasional, dan sekaligus memimpin dorongan reformasi terhadap FIFA lewat rencana 14 poin. Semua ini terjadi menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret, ketika belum ada penantang yang benar-benar mapan.
Yang perlu dicermati ke depan adalah bagaimana komitmen UEFA mencari kandidat alternatif bagi Infantino berjalan, dan sejauh mana rencana reformasi tata kelola bisa diterjemahkan menjadi aturan nyata. Dengan kata lain, pertarungan sesungguhnya bukan hanya soal siapa yang duduk di kursi kepemimpinan, melainkan soal seberapa besar kekuasaan yang seharusnya melekat pada kursi itu.




