Michael Carrick dipastikan tetap menangani Manchester United pada laga Premier League melawan Bournemouth, Minggu, meski tekanan terhadap posisinya meningkat. Ia disebut menjalankan tugas seperti biasa dan belum diberi tahu soal perubahan yang mungkin segera terjadi. Keputusan itu diambil setelah United menelan kekalahan memalukan 4-1 dari klub Italia, Como, pada Rabu.
Kekalahan tersebut memperpanjang rentetan buruk United menjadi tujuh pertandingan beruntun tanpa kemenangan. Di tengah situasi itu, sejumlah tokoh senior klub mulai mengkhawatirkan performa dan hasil tim. Sumber klub menyebut United sudah memulai proses mengidentifikasi calon pengganti Carrick, sehingga masa depannya di Old Trafford belum sepenuhnya aman.

Michael Carrick Tetap Memimpin, tetapi Tekanan Makin Terasa
Carrick akan tetap berada di bangku cadangan untuk laga melawan Bournemouth meski belum ada kepastian jangka panjang mengenai posisinya. Ia tidak diberi tahu tentang kemungkinan perubahan mendadak, sehingga ia menjalani persiapan seperti biasa. Para pemain diliburkan pada Kamis, tetapi kembali ke Carrington pada Jumat, saat Carrick menggelar konferensi pers untuk mengulas laga tersebut.
Tekanan meningkat setelah kekalahan 4-1 dari Como, yang menjadi laga ketujuh United tanpa kemenangan. Kapten Bruno Fernandes ikut mempertanyakan taktik Carrick setelah pertandingan tersebut. Situasi ini membuat posisi Carrick menjadi salah satu topik utama di Old Trafford, meski secara resmi ia masih dipercaya untuk laga berikutnya.
Meski demikian, belum ada keputusan resmi yang menyatakan Carrick akan dicopot. Klub memilih menunggu perkembangan pertandingan berikutnya sebelum mengambil langkah lebih jauh. Namun, proses pencarian pengganti yang sudah berjalan menunjukkan bahwa skenario pergantian pelatih sedang dipertimbangkan.
Kekhawatiran di Old Trafford dan Nama-Nama Calon Pengganti
Sejumlah pihak di Old Trafford menilai skuad United seharusnya tampil jauh lebih baik. Satu sumber mengatakan kepada BBC Sport bahwa tim perlu bekerja keras untuk melewati masa sulit ini. Sumber lain mengakui tingkat cedera saat ini tidak membantu, tetapi menegaskan bahwa itu bukan alasan karena level usaha para pemain dinilai mengkhawatirkan.
Sumber tersebut menegaskan bahwa United memiliki skuad berlevel Liga Champions dan seharusnya bermain di level itu. Meski performa menjadi kekhawatiran, sebagian pihak di hierarki klub berpendapat bahwa pergantian manajer terlalu sering dalam beberapa tahun terakhir justru gagal menahan penurunan United. Pandangan ini menempatkan Carrick sebagai sosok yang juga dikecewakan oleh pemain yang tampil di bawah performa.
Di sisi lain, United mulai memetakan opsi pengganti dengan melihat sejumlah nama yang sedang tanpa klub. Eddie Howe, Antonio Conte, dan Julian Nagelsmann dikabarkan tertarik pada posisi di Old Trafford. Howe dinilai tersedia dan akan dipertimbangkan, sementara Conte serta Nagelsmann juga berminat setelah sama-sama tidak menangani klub saat ini.
Nama pelatih Aston Villa, Unai Emery, dan bos Brighton, Fabian Hurzeler, memiliki nilai tinggi di mata para pengambil keputusan United. Namun, menarik mereka dari klub masing-masing akan sulit karena keduanya masih terikat kontrak dan sedang menangani tim. Karena itu, jalur pengganti dari kalangan pelatih tanpa klub tampak lebih terbuka untuk saat ini.
Pola Pergantian Pelatih yang Berulang
Untuk tahun ketiga berturut-turut, United memberikan dukungan publik dan finansial kepada seorang manajer pada musim panas. Namun, dukungan itu tidak diikuti hasil positif di lapangan. Pola ini membuat klub berada dalam siklus pergantian pelatih yang sulit dihentikan.
Ruben Amorim bertahan dengan goyah sampai Januari, sebelum kekalahan mengejutkan di Piala Liga dari tim League Two, Grimsby, pada Agustus lalu dan performa buruk di Brentford kurang dari sebulan kemudian menghapus rasa amannya. Situasi itu membuat hierarki United tidak punya jalan lain ketika Amorim menyerang pengaruh mereka. Sebelumnya, pada musim panas 2024, United sempat meninjau kandidat lain seperti Thomas Tuchel dan Roberto de Zerbi sebelum memutuskan bertahan dengan Erik ten Hag, yang kemudian dipecat pada Oktober.
Carrick diangkat permanen pada Mei setelah mencatat 12 kemenangan dari 17 laga sebagai pelatih interim. Ia juga membawa United kembali ke Liga Champions setelah absen dua tahun, sehingga mayoritas pendukung menilai pria berusia 45 tahun itu layak mendapat kesempatan. Namun, seperti biasa, hasil di lapangan menentukan segalanya.
Kenyataan pahitnya, United hanya meraih dua kemenangan dari 11 laga dan nihil kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir. Rentetan itu menjadi yang terburuk sejak 2015-16, ketika delapan laga tanpa kemenangan membawa Louis van Gaal ke ambang pemecatan. Sebagai pelatih kepala, Carrick menanggung tanggung jawab besar atas catatan tersebut.
Dampak ke Skuad, Rekrutmen, dan Ruang Ganti
Tuduhan kurangnya gairah, keinginan, dan intensitas membayangi United sepanjang musim. Tim juga terganggu oleh cedera dan pemain yang gagal mencapai level yang diharapkan. Selain kesulitan menyerang, United hanya mencatat satu clean sheet sepanjang musim seiring menurunnya performa, hasil, dan kepercayaan diri.
Ketegangan di ruang ganti terlihat dari komentar terbuka sejumlah pemain. Bek senior Lisandro Martinez menyerang rekrutmen klub, sementara Fernandes menyoroti Carrick dan taktiknya. Di tengah itu, wawancara Ten Hag di The Athletic membahas “janji-janji yang dilanggar” dan “budaya toksik”, yang semakin memperkuat kesan klub kehilangan kendali, disiplin, dan strategi ke depan.
Sejumlah tokoh senior di klub berpandangan bahwa rekrutmen secara keseluruhan bisa dipertanyakan. Secara spesifik, penguatan lini tengah pada musim panas dilakukan dengan mengorbankan dukungan striker untuk Benjamin Sesko atau kompetisi di posisi bek kiri. Meski begitu, mereka menilai para pemain tetap harus menanggung tanggung jawab besar atas performa tim.
Apakah pandangan itu membantu Carrick merupakan persoalan lain. Dukungan dari sebagian pihak tidak serta-merta menghilangkan tekanan yang datang dari hasil buruk dan komentar publik. Selama tim belum menunjukkan perbaikan, posisi Carrick akan terus menjadi sorotan.
Apa yang Mungkin Terjadi Selanjutnya
Jarak laga Premier League berikutnya membuat perubahan langsung tidak sederhana, bahkan jika pergantian pelatih menjadi pertimbangan. Setelah pemecatan Amorim pada Januari, Darren Fletcher sempat mengambil alih sebagai manajer interim selama dua pertandingan. Fletcher kemudian kembali ke perannya sebagai pelatih U-18, tetapi Jonny Evans dan Travis Binnion bertahan di tim senior sebagai bagian dari staf Carrick.
United memiliki pekan tanpa laga tengah pekan setelah kekalahan di Piala EFL dari Brighton. Brighton sendiri bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menang di Old Trafford bulan lalu. Secara teori, jeda itu memberi waktu bagi klub untuk mengevaluasi situasi tanpa tekanan langsung dari pertandingan.
Bournemouth datang dengan modal kemenangan Premier League pertama di bawah bos baru Marco Rose pekan lalu. Musim lalu, mereka bermain imbang 4-4 dalam pertemuan berkesan di Old Trafford, dan sebelum itu menang 3-0 pada dua kunjungan sebelumnya. Catatan itu membuat laga Minggu tetap berisiko bagi United meski bermain di kandang.
Masih harus dilihat apakah Carrick akan tetap memimpin dan, jika iya, berapa lama ia bertahan setelah laga tersebut. Sejauh ini, satu-satunya kepastian di Manchester United adalah rasa ketidakpastian itu sendiri. Situasi ini membuat pertandingan melawan Bournemouth menjadi momen penting bagi arah klub dalam jangka pendek.
Tekanan terhadap Michael Carrick belum surut meski ia tetap ditugaskan mendampingi United melawan Bournemouth. Kekalahan dari Como, rentetan tanpa kemenangan, serta komentar terbuka dari pemain dan mantan manajer memperlihatkan masalah yang lebih luas daripada sekadar taktik. Di saat yang sama, United mulai memetakan opsi pengganti, sementara sebagian pihak menilai pergantian pelatih bukan obat tunggal.
Yang jelas, United berada di persimpangan antara memberi Carrick lebih banyak waktu dan segera mencari arah baru. Dukungan finansial dan publik pada musim panas belum berbuah hasil, sedangkan tuntutan untuk kembali ke level Liga Champions semakin kuat. Hingga ada keputusan resmi, laga melawan Bournemouth akan menjadi ujian langsung bagi Carrick dan skuadnya.




