Swiss Tumbangkan Kolombia Lewat Adu Penalti, Lolos ke Perempat Final Piala Dunia

Drama Adu Penalti di BC Place

Swiss berhasil mengamankan tiket ke perempat final Piala Dunia setelah mengalahkan Kolombia melalui adu penalti dengan skor 4-3. Pertandingan babak 16 besar yang digelar di BC Place, Vancouver, berjalan sangat alot dan tanpa gol selama 120 menit. Eksekusi penalti Ruben Vargas menjadi penentu kemenangan, sementara dua pemain Kolombia, Davinson Sánchez dan Cucho Hernández, gagal menjalankan tugasnya dari titik putih.

Kemenangan ini sangat bersejarah bagi Swiss. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1954, mereka berhasil menembus babak perempat final Piala Dunia. Pada edisi 1954, Swiss menjadi tuan rumah dan babak perempat final merupakan babak gugur pertama dengan format 16 tim. Kini, langkah berat sudah menanti: mereka harus berhadapan dengan Lionel Messi dan Argentina di Kansas City dalam waktu empat hari ke depan.

Swiss Tumbangkan Kolombia

Pertandingan Taktis Tanpa Banyak Peluang Bersih

Pelatih Swiss, Murat Yakin, mengaku masih perlu waktu untuk memproses apa yang baru saja terjadi. “Ini mimpi,” ujarnya dengan wajah berseri. Yakin berkali-kali mengatakan bahwa pertandingan berjalan sesuai rencana. Jika benar, rencana itu pasti sangat detail, karena laga ini lebih mirip partai catur daripada pertandingan sepak bola biasa. Kedua tim saling jual beli serangan dengan hati-hati selama lebih dari 120 menit, namun sama-sama kehilangan sentuhan akhir yang mematikan.

Penguasaan bola berimbang. Lini tengah bergantian mendominasi, tetapi hanya dalam hitungan menit. Beberapa kali umpan panjang menjadi andalan untuk menguji pertahanan lawan. Meski tanpa banyak gebrakan, tensi tetap tinggi hingga akhir. Pelatih Kolombia, Néstor Lorenzo, mengakui bahwa timnya seharusnya bisa mencetak gol. “Kami sadar ini akan jadi pertandingan taktis dan ketat. Tentu saja kami harusnya mencetak gol,” katanya.

Peluang Emas Kolombia yang Terbuang

Kolombia sebenarnya memiliki beberapa peluang berbahaya. Namun penyelesaian akhir para penyerang mereka kurang memuaskan. Kegagalan paling krusial terjadi pada menit ke-116 saat Jaminton Campaz melepaskan tembakan dari jarak 10 yard yang melambung di atas mistar. Peluang seperti itu seharusnya bisa dimanfaatkan dengan lebih baik di ajang sekelas Piala Dunia.

Kehadiran bintang Swiss, Johan Manzambi, yang menjadi top skor sementara tim, sangat dirindukan. Ia mengalami cedera lutut dalam latihan sehari sebelumnya dan tidak masuk daftar susunan pemain. Yakin mengatakan semua persiapan taktik sudah dibuat dengan mempertimbangkan Manzambi, dan ketidakhadirannya mengacaukan rencana tersebut. “Saya ingin melihat pemain terbaik kami di lapangan,” tegas Yakin.

Suasana Stadion yang Mendukung Kolombia

Atap BC Place tetap tertutup meski cuaca di British Columbia cerah dan hangat. Sistem pendingin udara tampak kewalahan, sehingga kelembaban terasa menyengat di akhir pertandingan. Namun kondisi itu tidak mengurangi semangat 52.497 penonton yang memadati stadion. Mayoritas dari mereka mengenakan warna kuning terang khas Kolombia, bernyanyi sepanjang laga, dan mencemooh setiap kali Swiss menguasai bola. Atmosfer terasa seperti di Barranquilla, meski jaraknya ribuan kilometer ke utara.

Serangan Balik Kolombia dan Peluang Swiss

Kolombia mengandalkan serangan balik cepat. Pada menit ke-21, umpan pertama James Rodríguez yang kurang sempurna memicu kemelut yang langsung dimanfaatkan Jefferson Lerma. Bola akhirnya sampai ke Gustavo Puerta di tepi kotak penalti. Tendangan melengkung Puerta sudah mengarah ke pojok atas gawang, tetapi Gregor Kobel melakukan penyelamatan terbang yang luar biasa.

Swiss membalas sembilan menit kemudian. Upaya sapuan Daniel Muñoz dari area penalti sendiri malah membentur Dan Ndoye, bola jatuh ke kaki Fabian Rieder yang masuk ke kotak penalti. Tembakannya memaksa kiper Camilo Vargas melakukan penyelamatan sama baiknya. Beberapa menit kemudian, Vargas kembali menggagalkan peluang Ndoye dengan diving ke kiri.

Babak Kedua dan Pergantian Pemain yang Berdampak

Di babak kedua, Swiss memasukkan Djibril Sow menggantikan Ardon Jashari. Hanya dua menit setelah turun minum, Sow langsung mengancam gawang Kolombia lewat tembakan hasil umpan Ndoye, meski masih melambung di atas mistar. Kolombia kembali membuang peluang besar pada menit ke-63. Umpan ceroboh dari lini belakang Swiss membuat Granit Xhaka kehilangan bola, direbut Luis Suárez. Dengan peluang terbuka, tembakan Suárez melenceng tinggi dan melebar. Penonton meraung, awalnya frustrasi, lalu memberi semangat.

Pergantian pemain lain terjadi pada menit ke-66 saat James Rodríguez ditarik keluar digantikan Juan Quintero. Rodríguez yang berusia 34 tahun mendapat standing ovation dari penonton, yang kemungkinan menjadi momen perpisahannya di Piala Dunia. Meski lini depan Kolombia lebih aktif dan momentum sedikit berpihak, kesulitan di depan gawang tetap berlanjut. Umpan terobosan sering meleset beberapa inci, pemain kerap terjebak offside, dan pertahanan Swiss tampil kokoh. Pertandingan pun berlanjut ke babak tambahan.

Babak Tambahan: Kolombia Mendominasi tapi Gagal Mencetak Gol

Di extra time, Kolombia semakin menguasai jalannya pertandingan. Pada menit ke-93, mereka sempat meminta penalti setelah Campaz dijatuhkan Miro Muheim di dalam kotak. Wasit tidak mengabulkannya. Lima menit kemudian, momen nyaris menjadi gol terjadi saat sundulan Jhon Lucumí dari tendangan pojok Quintero mengenai tiang mistar. Tak lama berselang, tembakan jarak jauh Campaz memaksa Kobel melakukan penyelamatan cerdik.

Yakin memuji penampilan kipernya, Gregor Kobel. “Dia adalah pembangkit tenaga. Bisa dibilang dia salah satu kiper terbaik di dunia. Dia tidak mengambil risiko terlalu besar dan saya pikir dia benar-benar menemukan performanya dalam pertandingan ini. Kami sangat senang dia bisa membantu hari ini.” Kobel mencatat dua penyelamatan di waktu normal dan satu penyelamatan krusial saat adu penalti.

Kegagalan Penalti yang Menentukan

Kobel tidak perlu bertindak saat Campaz melepaskan tembakan melambung di menit akhir extra time. Ia juga tidak dibutuhkan ketika Sánchez menghantamkan penaltinya ke mistar gawang saat adu penalti. Tapi penyelamatan rendah ke kanan terhadap penalti Hernández-lah yang memastikan hasil bersejarah bagi Swiss. Yakin pun tersenyum lebar.

“Kami akan merayakannya bersama seluruh staf dan seluruh bangsa. Ini adalah kesempatan yang sangat unik bagi kami,” ujar Yakin. Sementara itu, Lorenzo harus membela hasil di mana Kolombia tampil dominan tanpa hasil akhir yang memuaskan. “Mereka pemain luar biasa, tidak ada yang perlu disalahkan. Faktanya, kadang Anda mencetak gol, kadang tidak,” katanya.

Kesimpulan: Swiss Melaju, Kolombia Gigit Jari

Pertandingan ini menjadi bukti bahwa sepak bola kerap ditentukan oleh momen-momen kecil, terutama dalam adu penalti. Swiss lolos ke perempat final setelah menahan gempuran Kolombia selama 120 menit dan lebih tenang dalam eksekusi penalti. Kini tantangan jauh lebih besar menanti: menghadapi Argentina yang diperkuat Messi. Apakah Swiss mampu melanjutkan mimpi mereka? Ataukah langkah mereka terhenti di tangan La Albiceleste? Kita nantikan bersama.