Home / permainan mix parlay / FA Cup: Mulbarton vs Woodford Diulang usai Blunder Wasit

FA Cup: Mulbarton vs Woodford Diulang usai Blunder Wasit

Laga FA Cup antara Mulbarton Wanderers dan Woodford Town harus diulang setelah sub-komite Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) menemukan adanya kesalahan teknis yang dilakukan wasit. Keputusan itu bukan diambil karena perbedaan penilaian di lapangan, melainkan karena aturan yang diterapkan pada sebuah momen penalti tidak sesuai dengan bunyi Laws of the Game. Akibatnya, kemenangan 2-1 yang sudah diraih Mulbarton di atas lapangan menjadi tidak final dan pertandingan wajib dimainkan ulang.

Kasus ini menjadi sorotan karena bersinggungan langsung dengan persoalan finalitas hasil pertandingan. Mulbarton mengaku “sangat kecewa” dan menilai keputusan tersebut berpotensi membawa implikasi lebih luas terhadap integritas kompetisi secara keseluruhan. Sementara Woodford, pihak yang mengajukan protes, justru menyambut keputusan itu sebagai cara agar pertandingan bisa diselesaikan sesuai aturan FA Cup yang seharusnya.

Mulbarton vs Woodford

Duduk Perkara: Gol Penalti yang Dianulir dan Protes Woodford

Inti persoalan terletak pada sebuah gol yang dicetak Woodford dari titik penalti. Wasit menganulir gol tersebut karena menilai sejumlah pemain penyerang melakukan encroachment, yakni masuk ke area terlarang sebelum tendangan dieksekusi. Alih-alih memerintahkan penalti diulang, wasit memberikan tendangan bebas tidak langsung untuk Mulbarton.

Merujuk Law 14, keputusan semacam itu keliru. Ketika pemain bertahan atau penyerang melanggar aturan masuk area, tendangan penalti seharusnya diambil ulang. Karena itulah sub-komite FA menyimpulkan telah terjadi kesalahan teknis oleh wasit, lalu memerintahkan laga dimainkan ulang pada Selasa.

Mulbarton, klub yang berlaga di Isthmian League North, menilai keputusan replay itu membuka pintu bagi persoalan yang lebih besar. Mereka menyoroti soal “finalitas hasil” dan “integritas permainan secara keseluruhan”. Woodford yang berbasis di Redbridge justru menyebut keputusan tersebut memastikan pertandingan bisa dituntaskan sesuai aturan FA Cup. Pemenang laga ulangan ini akan menjamu Gloucester City dari Southern League Premier Division South pada babak kualifikasi ketiga, Sabtu, 3 Oktober.

Batas Tipis antara Salah Penerapan Aturan dan Salah Penilaian

Pertandingan diulang bukan karena wasit salah menilai sebuah situasi, melainkan karena wasit menerapkan aturan yang tidak semestinya. Perbedaannya penting: kesalahan subjektif seperti keliru memberikan tendangan sudut atau menghadiahkan penalti yang diperdebatkan tidak cukup menjadi alasan untuk mengulang pertandingan. Sebaliknya, sebuah keputusan yang tidak punya dasar dalam hukum permainan bisa berujung pada replay.

Aturan soal encroachment sendiri telah dilonggarkan dalam beberapa tahun terakhir. Pelanggaran baru dianggap terjadi bila masuknya pemain ke area benar-benar memberi dampak jelas bagi lawan. Karena gol dalam kasus ini berhasil tercipta, satu-satunya pelanggaran yang mungkin terjadi adalah gangguan dari pemain penyerang terhadap kiper. Itu pun masih bersifat penilaian subjektif dan cukup sulit dibuktikan.

Namun, sekalipun keputusan menganulir gol bisa dibenarkan, cara memulai kembali permainan tetap salah. Selain kasus penendang melakukan gerakan tipuan ilegal, tidak ada dasar dalam hukum permainan untuk memberikan tendangan bebas tidak langsung. Inilah yang membuat kasus Mulbarton versus Woodford berbeda dari sekadar kesalahan wasit biasa.

Implikasi bagi Kedua Klub dan Kompetisi

Bagi Mulbarton, keputusan ini terasa pahit karena mereka sudah memenangi pertandingan di lapangan. Kemenangan 2-1 yang mereka raih harus dibatalkan bukan karena kesalahan mereka sendiri. Kekhawatiran yang mereka sampaikan menyentuh pertanyaan mendasar: sejauh mana hasil sebuah pertandingan bisa dianggap final bila keputusan hukum di lapangan keliru?

Di sisi lain, Woodford mendapat kesempatan kedua yang sah menurut aturan. Protes mereka diterima karena kesalahannya murni bersifat teknis, bukan perbedaan tafsir permainan. Ini menunjukkan bahwa sistem banding masih berfungsi, meski prosesnya menimbulkan ketidaknyamanan bagi klub yang merasa dirugikan.

Kemungkinan pertandingan diulang jauh lebih besar pada laga sistem gugur seperti Piala. Alasannya, satu keputusan keliru dianggap berdampak langsung pada hasil akhir sebuah kompetisi. Hal berbeda berlaku di kompetisi liga, di mana satu pertandingan hanyalah bagian kecil dari rangkaian panjang sepanjang musim.

Sejumlah Preseden di Inggris dan Eropa

Kasus pengulangan laga akibat kesalahan penerapan aturan sebenarnya bukan hal yang langka. Laga Spartan South Midlands League antara Edgware Town dan Harefield United pada 2006 dipercaya sebagai yang pertama di sepak bola Inggris yang diperintahkan diulang karena kesalahan wasit. Situasinya nyaris identik: Edgware mencetak gol dari penalti, wasit melihat adanya encroachment pemain penyerang, lalu memberikan tendangan bebas tidak langsung kepada Harefield, padahal seharusnya penalti diulang.

Di level Eropa, UEFA mengambil keputusan serupa untuk pertama kalinya pada 2015 dalam laga kualifikasi Kejuaraan Eropa antara tim putri Inggris U-19 dan Norwegia. Saat itu Inggris tertinggal 2-1 ketika Leah Williamson mencetak gol dari titik penalti di masa tambahan waktu, tetapi gol itu dianulir karena encroachment pemain penyerang. Seharusnya tendangan diulang. UEFA memerintahkan pertandingan dimulai kembali dari momen penalti tersebut, para pemain berkumpul lagi lima hari kemudian, Williamson mencetak gol, laga berakhir 2-2, dan Inggris melaju ke putaran final Kejuaraan Eropa.

Di Inggris sendiri, sebuah laga FA Vase diulang musim lalu setelah wasit melakukan kesalahan terkait adu penalti. Sebelumnya, Bridlington Town harus memainkan ulang kemenangan 2-1 atas Knaresborough di FA Cup tahun lalu meski bukan karena kesalahan mereka. Tim perangkat pertandingan dianggap salah secara hukum karena menolak permintaan pemain pengganti kelima Knaresborough pada masa perpanjangan waktu. Semua contoh ini menegaskan satu hal: pengulangan hanya bisa terjadi bila ada misaplikasi aturan, bukan sekadar perbedaan penilaian.

Bisakah Hal Serupa Terjadi di Liga yang Memakai VAR?

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah apakah kesalahan semacam ini bisa berujung pada pengulangan pertandingan di kompetisi yang menggunakan video assistant referee (VAR). International Football Association Board (IFAB) sudah tegas soal ini: sebuah pertandingan tidak menjadi tidak sah hanya karena “keputusan keliru yang melibatkan VAR”. Protokol VAR bahkan memuat klausul bahwa “kerusakan pada teknologi VAR” tidak bisa membatalkan hasil pertandingan.

Contohnya, kesalahan VAR sudah beberapa kali diakui secara terbuka. Musim lalu tercatat ada 25 kesalahan VAR, dan musim ini sebuah kesalahan telah diakui publik setelah Manchester United kalah 1-0 di kandang dari Manchester City. Dalam laga itu, VAR Matt Donohue tidak membuat penilaian atas potensi pelanggaran offside yang dilakukan Fernandez. Andaikan pun ia memeriksanya dengan benar, hal itu tetap dianggap sebagai penilaian subjektif atas pengaruh Fernandez terhadap Lisandro Martinez dan kiper Senne Lammens, bukan misaplikasi aturan.

Hal serupa berlaku pada gol Luis Diaz untuk Liverpool di Tottenham beberapa tahun lalu. VAR Darren England sebenarnya mengambil keputusan yang benar secara hukum, tetapi menyampaikannya kepada wasit secara keliru, sehingga tidak dianggap sebagai kesalahan atas hukum permainan. Begitu pula insiden Juli 2020, ketika operator sistem teknologi garis gawang Premier League harus meminta maaf setelah kesalahan tersebut membuat Sheffield United kehilangan gol dalam hasil imbang 0-0 di Aston Villa. Kiper Villa, Orjan Nyland, membawa tendangan bebas Oliver Norwood pada menit ke-42 melewati garis, tetapi wasit Michael Oliver tidak menerima sinyal yang menandakan gol.

Pelajaran dari Eredivisie dan Liga Belgia

Kasus menarik muncul di Eredivisie pada Desember 2024. Gol kemenangan PEC Zwolle atas RKC Waalwijk di menit akhir dianulir karena offside, padahal offside diberikan dari situasi tendangan sudut, sesuatu yang tidak mungkin terjadi menurut hukum permainan. Sejumlah banding gagal, dan federasi sepak bola Belanda menyatakan wasit telah menerapkan aturan dengan benar serta hanya melakukan penilaian yang keliru.

Studi kasus paling relevan datang dari Belgian Pro League pada Desember 2023. Insiden itu terjadi dalam kekalahan 2-1 Genk dari Anderlecht, ketika Yira Sor mencetak gol dari bola muntah hasil penalti yang gagal. VAR menganulir gol tersebut karena Sor berada di dalam area, tetapi tidak mengidentifikasi pelanggaran serupa oleh dua pemain Anderlecht. Seharusnya tendangan penalti diulang, bukan diberikan tendangan bebas.

Genk berhasil memenangkan protes untuk mengulang laga dengan alasan hukum permainan “salah diterapkan”. Namun, Court of Arbitration for Sport Belgia membatalkan keputusan itu dan hasil pertandingan tetap dipertahankan. Alasannya memberi gambaran penting: kejadian tersebut dinilai bukan “pelanggaran terhadap hukum permainan”, melainkan sekadar “kecerobohan dalam menilai situasi pertandingan”. Lembaga itu juga menegaskan bahwa klub sepak bola harus menyadari wasit bukan robot dan, seperti halnya pemain, bisa melakukan kesalahan.

Kesimpulan

Kasus Mulbarton Wanderers dan Woodford Town menunjukkan bahwa hasil sebuah laga bisa dibatalkan bila wasit salah menerapkan aturan, bukan sekadar salah menilai. Karena kesalahannya bersifat teknis dan tidak punya dasar dalam hukum permainan, pengulangan pertandingan dianggap sebagai jalan yang paling sesuai. Keputusan ini sekaligus menegaskan bahwa pertandingan sistem gugur jauh lebih rentan terkena konsekuensi semacam itu dibandingkan laga liga.

Meski demikian, kecil kemungkinan kita akan melihat gelombang banding serupa di kompetisi yang memakai VAR. IFAB menegaskan kesalahan maupun kerusakan teknologi video tidak bisa membatalkan hasil pertandingan, dan pengadilan arbitrase Belgia pun menolak menyamakan kecerobohan penilaian dengan pelanggaran aturan. Bagi Mulbarton, Woodford, dan Gloucester City yang menanti di babak berikutnya, yang tersisa hanyalah satu pertandingan ulangan untuk menentukan siapa yang benar-benar berhak melaju.

Tagged: