Hubungan Bellingham dan Tuchel: Pertarungan Kehendak yang Sehat untuk Inggris di Piala Dunia 2026

Passion dan Ambisi Tanpa Kompromi

Jude Bellingham baru saja membawa Inggris melaju ke semifinal Piala Dunia 2026 setelah mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 atas Norwegia di Miami. Namun di balik performa gemilangnya, ada dinamika menarik antara sang bintang Real Madrid dan pelatih kepala Thomas Tuchel. Baik Tuchel maupun Bellingham sama-sama dikenal sebagai sosok yang penuh gairah, gigih, dan tidak mau kompromi. Keduanya memiliki kepercayaan diri tinggi, jujur, dan selalu menuntut standar tertinggi dari semua orang di sekitar mereka. Tak diragukan lagi, keduanya adalah pemenang yang hanya menginginkan satu hal: membawa pulang Piala Dunia untuk Inggris.

Bellingham dan Tuchel
ATLANTA, GEORGIA – JULY 01: Thomas Tuchel, Manager of England, talks with Jude Bellingham #10 during the FIFA World Cup 2026 Round Of 32 match between England and Congo DR at Atlanta Stadium on July 01, 2026 in Atlanta, Georgia. (Photo by Michael Reaves/Getty Images)

Dua Pendekatan Berbeda untuk Satu Tujuan

Masalahnya, Tuchel dan Bellingham memiliki pandangan yang berbeda soal bagaimana sang gelandang seharusnya dimanfaatkan. Bellingham selama ini lebih suka diberikan peran bebas untuk mempengaruhi permainan, sementara Tuchel menuntutnya bermain sesuai sistem tim yang telah dirancang. Taktik Tuchel cukup jelas: ia lebih banyak menggunakan “tongkat” daripada “wortel” untuk membentuk pemain mudanya menjadi lebih baik lagi. Pujian dari Tuchel selalu terukur, terkontrol, dan jarang muncul di depan umum, seperti seorang ayah yang terlalu keras kepada anaknya yang jenius namun enggan memberikan pujian di tempat umum.

Kritik yang Terukur, Pujian yang Langka

Pelatih asal Jerman itu sangat jarang memuji kemampuan Bellingham secara langsung atau kemampuannya yang unik dalam menginspirasi rekan setim. Pujian Tuchel lebih sering tertuju pada momen-momen ketika Bellingham patuh pada sistem, berkorban untuk tim, dan bekerja keras tanpa bola. Banyak yang berargumen bahwa pendekatan ini berhasil. Sepanjang turnamen, Bellingham tampil dalam performa terbaiknya bersama Inggris—bahkan melebihi penampilannya di Real Madrid yang sering memuja bakat individu ala Galactico.

Statistik Bicara: Bellingham Versi Lengkap

Lihat saja statistiknya di perempat final. Tak cuma tajam dalam menyerang—ia mencetak gol terbanyak, melepaskan tembakan paling sering, dan paling banyak menyentuh bola di kotak penalti lawan—ia juga memenangkan duel terbanyak dan berada di urutan kedua dalam jumlah tekanan sukses ke lawan di daerah sendiri. Tuchel layak mendapat kredit untuk dominasi serba bisa ini.

Pertarungan Kehendak yang Sempat Memanas

Hubungan keduanya telah berlangsung lebih dari 18 bulan. Titik terendah terjadi setahun lalu ketika Tuchel secara tidak bijaksana mengatakan bahwa ibunya sendiri kadang menganggap Bellingham “menjijikkan” di lapangan. Ucapan itu sangat menyakiti Bellingham dan keluarganya. Tuchel kemudian meminta maaf dan masalah itu mereda. Hal yang lebih aneh terjadi pada Oktober lalu ketika Tuchel mengeluarkan Bellingham dari skuad Inggris untuk laga persahabatan melawan Wales dan kualifikasi Piala Dunia melawan Latvia. Hanya 48 jam sebelumnya, Bellingham dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Inggris. Tuchel tidak membungkusnya dengan alasan istirahat atau cedera, melainkan dengan tegas menyebut semangat tim sebagai faktor utama. Apakah itu manajemen pemain yang cerdas? Memberi tendangan kepada superstar saat tim tidak membutuhkannya, agar ia lebih termotivasi saat Inggris sangat membutuhkannya?

Pertengkaran Pasca-Pertandingan yang Sehat

Kembali ke Piala Dunia, setelah kemenangan atas Norwegia, Bellingham tampak tersinggung saat mendengar komentar Tuchel yang menyebut performa tim “ceroboh” dan beruntung. Dalam cuaca setara 44 derajat Celcius, Bellingham membalas bahwa Tuchel tidak tahu bagaimana rasanya bermain di laga knockout level tinggi. Itu bisa diartikan sebagai sindiran terhadap karier bermain Tuchel yang singkat dan tidak spektakuler di Jerman sebelum cedera lutut memaksanya pensiun di usia 25 tahun—sementara Bellingham di usia 22 sudah memenangkan La Liga, Piala Super UEFA, dan Liga Champions.

  • Bellingham benar: ia kelelahan total, telah memberikan segalanya, dan masih dalam euforia lolos ke semifinal Piala Dunia pertamanya. Mendengar bosnya tidak puas tentu memicu respons emosional.
  • Tuchel juga benar: performa Inggris secara umum kurang berkualitas, kecuali Bellingham dan segelintir pemain. Inggris beruntung gol Norwegia dianulir dan insiden aneh dengan kabel spidercam. Jika ingin mengalahkan Argentina di semifinal, lalu Spanyol atau Prancis di final, Inggris harus bermain jauh lebih baik.

Bukan Rival, Tapi Dorongan Timbal Balik

Yang menarik, Bellingham justru membela rekan-rekannya dan memuji usaha serta kemauan keras mereka untuk menang. Ironisnya, itu persis seperti semangat kolektif yang selama ini Tuchel minta dari pemain Real Madrid itu. Jadi, lupakan anggapan ada keretakan antara Tuchel dan Bellingham. Tidak ada. Yang ada hanyalah dua atlet superkompetitif dan superbersemangat yang terus mendorong satu sama lain ke level lebih tinggi. Hubungan cinta-benci ini telah berlangsung sejak FA menunjuk pelatih kepala baru 18 bulan lalu. Segala sesuatu yang terlihat dari dan di antara mereka adalah hal yang positif, sehat, dan menjadi kabar baik bagi perjuangan Inggris meraih Piala Dunia 2026.