Home / permainan mix parlay / Krisis Manchester City: Maresca Hadapi Masalah di Semua Lini

Krisis Manchester City: Maresca Hadapi Masalah di Semua Lini

Krisis Manchester City semakin terasa setelah tim asuhan Enzo Maresca tumbang 0-1 di kandang sendiri melawan Brighton pada laga lanjutan Premier League. Kekalahan itu membuat City menelan dua kekalahan beruntun di liga, tepat setelah sebelumnya takluk di markas Aston Villa. Maresca pun dituntut segera menemukan solusi karena masalah tim tidak lagi terbatas pada satu sektor saja.

Masa awal Maresca sebenarnya berjalan sangat mulus. Mantan pelatih Chelsea yang ditunjuk menggantikan Pep Guardiola itu memenangi tujuh pertandingan Premier League pertamanya, tetapi periode bulan madu kini berakhir. Ketua klub Khaldoon Al Mubarak dan CEO Ferran Soriano disebut menyaksikan langsung pertandingan di Etihad Stadium, sehingga tekanan untuk segera berbenah semakin besar.

Manchester City

Kekalahan dari Brighton Perpanjang Tren Buruk Manchester City

Hasil melawan Brighton menjadi pukulan karena City sebenarnya mendominasi. Mereka melepaskan 21 tembakan, jumlah terbanyak City di kandang tanpa gol sejak 23 percobaan melawan Tottenham pada November 2024. Meski menciptakan banyak peluang, tuan rumah tetap gagal mencetak gol dan harus mengakui keunggulan Brighton.

Maresca menilai hasil itu terasa aneh karena timnya merasa sudah berbuat cukup untuk mendapatkan sesuatu. Ia menyebut City menciptakan volume serangan yang baik, tetapi kurang klinis di depan gawang. Menurutnya, sikap dan perjuangan pemain sudah benar, hanya saja hasil akhir belum berpihak kepada mereka.

Kekalahan ini juga membuat City kehilangan momentum di puncak klasemen. Mereka masih memimpin lewat selisih gol, tetapi posisi itu bisa direbut Arsenal jika tidak kalah saat menghadapi Liverpool pada Minggu (kick-off 16.30 GMT). Musim lalu City harus merelakan gelar kepada Arsenal dan musim ini mereka kembali dianggap sebagai penantang terdekat, sehingga performa yang naik-turun menjadi peringatan serius.

Blunder di Lini Belakang Jadi Biaya Mahal

Masalah pertama yang harus dibereskan Maresca adalah pertahanan. City sudah kebobolan 10 gol dalam sembilan laga Premier League musim ini, dua kali lipat jumlah kebobolan Arsenal. Kesalahan individu di belakang mulai menumpuk, mulai dari Marc Guehi dan Gianluigi Donnarumma saat melawan Aston Villa hingga Matheus Nunes ketika menghadapi Brighton.

Maresca tetap menegaskan bahwa Donnarumma adalah pilihan utama di posisi kiper. Ia bahkan menggambarkan susunan tim sebagai “Donnarumma plus 10”, ungkapan yang menunjukkan kepercayaan besar kepada sang penjaga gawang. Namun, rapuhnya pertahanan membuat City hanya mencatat satu clean sheet dalam delapan pertandingan terakhir di semua kompetisi.

Dampaknya terlihat pada catatan kolektif. Kekalahan dari Brighton membuat City untuk pertama kali dalam 14 bulan menelan dua kekalahan beruntun di Premier League. Maresca menyebut kesalahan individu sebagai bagian dari permainan dan sesuatu yang kadang terjadi, tetapi ia tetap mengakui tim perlu menganalisis apa yang bisa diperbaiki.

Lini Tengah Mahal Belum Menemukan Formula Tepat

City merombak lini tengah dengan belanja besar mencapai £327 juta pada musim panas. Perubahan itu terjadi setelah kepergian kapten Bernardo Silva dan Rodri, pemenang Ballon d’Or 2024. Nama-nama baru yang datang antara lain Enzo Fernandez dengan biaya setara rekor Premier League £125 juta, Elliot Anderson senilai £116 juta, dan Ayyoub Bouaddi yang dibeli £86 juta sebagai remaja termahal dalam sejarah Premier League.

Meski investasinya besar, Maresca tampaknya masih mencari kombinasi terbaik. Ia biasanya memainkan dua dari trio rekrutan musim panas di belakang nomor 10, tetapi melawan Brighton ia memilih menurunkan ketiganya. Akibatnya, Rayan Cherki dan Phil Foden harus memulai laga dari bangku cadangan.

Maresca menjelaskan bahwa keputusan itu diambil karena ia memperkirakan pertandingan berjalan fisik. Ia menilai Brighton agresif dalam duel satu lawan satu dan ingin memasang tiga gelandang bertipe fisik sejak awal. Ia juga sudah memikirkan 20-30 menit terakhir untuk menyegarkan tim dengan memasukkan Rayan, Allan, dan Phil.

Ketajaman Lini Depan Menurun

Selain pertahanan dan lini tengah, Maresca perlu membenahi efisiensi serangan. City sebenarnya sudah mencetak 20 gol dalam sembilan laga Premier League musim ini, tetapi laga melawan Brighton mengakhiri rentetan 23 pertandingan top-flight berturut-turut di mana mereka selalu mencetak gol. Ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan sekadar kemampuan menciptakan peluang, melainkan penyelesaian akhir.

Dalam dua laga terakhir di liga, City hanya mencetak satu gol meski menciptakan sembilan peluang besar. Melawan Brighton, Erling Haaland minim suplai bola, sementara Iliman Ndiaye sedang tidak dalam hari terbaiknya dan melewatkan peluang terbaik City di masing-masing babak. Kombinasi antara buruknya servis dan penyelesaian akhir yang kurang tajam membuat dominasi tidak berbuah hasil.

Maresca menyoroti bahwa City masih menjadi tim dengan produktivitas gol tertinggi kedua di Premier League. Menurutnya, timnya mampu mencetak gol, tetapi saat ini juga kebobolan gol-gol ceroboh yang seharusnya bisa dihindari. Ia berharap masalah tersebut tidak berlanjut pada pertandingan berikutnya.

Ujian Berikutnya di Liga Champions

Setelah kekalahan dari Brighton, City tidak punya banyak waktu untuk merenung. Mereka akan bertandang ke RB Leipzig dalam laga Liga Champions pada Rabu. Pertandingan itu menjadi kesempatan untuk mengakhiri tren negatif dan kembali ke jalur kemenangan.

Laga di Leipzig akan menjadi ujian nyata bagi kemampuan Maresca merespons tekanan. Ia harus memilih apakah tetap mempertahankan formula tiga gelandang fisik, mengembalikan kreativitas Cherki dan Foden, atau mengubah pendekatan di lini belakang. Keputusan-keputusan itu akan menunjukkan seberapa cepat ia mampu mengatasi masalah yang kini muncul di hampir semua lini.

Secara keseluruhan, kekalahan 0-1 dari Brighton memperlihatkan bahwa krisis Manchester City bukan hanya soal hasil akhir. Pertahanan yang rawan blunder, lini tengah mahal yang belum padu, dan serangan yang kurang klinis menjadi tiga persoalan utama yang harus diselesaikan Maresca. Jika tidak segera dibenahi, posisi City di puncak klasemen bisa hilang dan tekanan publik semakin besar.

Meski begitu, musim masih panjang dan Maresca sudah menunjukkan kemampuan membawa City memenangi tujuh laga awal Premier League. Tantangan sesungguhnya adalah membuktikan bahwa itu bukan sekadar periode bulan madu, melainkan fondasi yang bisa diandalkan saat masalah datang. Laga melawan RB Leipzig akan menjadi indikator awal apakah City mampu bangkit atau justru semakin terpuruk.

Tagged: