Home / permainan mix parlay / Krisis Newcastle United, Jaissle di Bawah Tekanan Berat

Krisis Newcastle United, Jaissle di Bawah Tekanan Berat

Kekalahan dari Everton dan Sorakan di St James’ Park

Krisis Newcastle United semakin terbuka setelah tim asuhan Matthias Jaissle kalah 1-0 dari Everton di St James’ Park. Kekalahan itu membuat Newcastle menelan dua kekalahan beruntun dari Everton dalam sepekan dan memicu sorakan tidak puas dari pendukung di akhir laga. Dalam pertandingan tersebut, Newcastle juga harus menghadapi kesalahan kiper Lukas Hornicek, kartu merah pemain pengganti Jacob Ramsey, dan serangan yang tumpul.

Bagi Jaissle, hasil ini menjadi tekanan besar karena Newcastle baru mengumpulkan 11 poin dari sembilan laga dan berada di paruh bawah klasemen, tepatnya peringkat 13. Posisi pelatih berusia 38 tahun itu menjadi sorotan karena ia baru tiga bulan menjalani kontrak empat tahun, setelah datang dari Red Bull Salzburg dengan rekam jejak di Arab Saudi dan Austria. Publik Newcastle menuntut perubahan cepat, sementara jadwal berikutnya tidak memberi banyak ruang untuk bernapas.

Krisis Newcastle United

Kekalahan dari Everton menjadi pukulan tambahan karena Newcastle sebelumnya tersingkir dari Carabao Cup oleh Everton pada Kamis sebelumnya. Pendukung sempat bertahan mendukung tim sepanjang laga, tetapi sorakan dan kemarahan terdengar jelas di St James’ Park saat peluit akhir dibunyikan. Hasil ini memperpanjang rangkaian performa buruk yang membuat posisi Jaissle makin disorot.

Gol kemenangan Everton lahir dari situasi yang menyakitkan bagi Newcastle karena kiper Lukas Hornicek gagal mengantisipasi tembakan rutin dan bola menggelinding untuk diselesaikan Thierno Barry. Jaissle menilai gol itu seharusnya dianulir karena ada pelanggaran terhadap Fabian Schar dalam proses terjadinya, meski ia juga mengakui timnya tidak cukup berani untuk bangkit. Newcastle juga bermain dengan 10 orang setelah Jacob Ramsey mendapat kartu merah.

Setelah laga, Jaissle menyebut hasil ini sebagai kekecewaan besar dan mengaku memahami reaksi fans. Ia menegaskan bertanggung jawab atas performa tersebut dan menyatakan Newcastle perlu memperbaiki banyak hal. Kekalahan ini menjadi yang keempat dalam enam pertandingan Premier League, memperpanjang tren buruk yang membuat posisi Jaissle makin disorot.

Statistik yang Mempertegas Krisis Newcastle United

Data menunjukkan krisis Newcastle United bukan sekadar soal satu hasil buruk. Sepanjang 2026, tidak ada tim Premier League yang kalah lebih banyak di kandang daripada Newcastle dengan tujuh kekalahan. Newcastle juga telah kalah pada 16 dari 18 laga liga terakhir setiap kali kebobolan lebih dulu, sebuah pola yang menunjukkan kesulitan membalikkan keadaan.

Masalah di lini belakang terlihat dari catatan clean sheet: Newcastle gagal mencatatkan clean sheet dalam 14 laga kandang liga terakhir, rentetan terpanjang dalam sejarah liga mereka. Di sisi lain, produktivitas serangan juga rendah karena mereka hanya mencetak 12 gol dalam sembilan laga liga. Melawan Everton, Newcastle melepaskan 17 percobaan tetapi hanya dua yang mengarah ke gawang, dan mereka hanya mencetak satu gol dari 47 tembakan terakhir di semua kompetisi.

Newcastle juga menjadi tim yang paling banyak menghadapi tembakan di Premier League musim ini, termasuk 15 tembakan atau lebih dalam tujuh dari sembilan laga. Dalam hal kesalahan yang berujung gol, hanya Sunderland dan Hull City yang mencatat lebih banyak daripada Newcastle di liga musim ini. Bagi Everton, kemenangan ini adalah kemenangan tandang pertama mereka di liga sejak Februari, yang juga terjadi di St James’ Park.

Tekanan pada Jaissle di Tengah Transisi

Tekanan pada Jaissle tidak bisa dilepaskan dari masa transisi besar di Newcastle. Klub kehilangan Eddie Howe setelah lima tahun menangani tim, lalu menunjuk Jaissle yang berusia 38 tahun setelah ia mencatatkan periode sukses di Arab Saudi dan Austria. Newcastle juga kehilangan sejumlah pemain penting pada musim panas, termasuk Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimaraes.

Jaissle sendiri menyadari bahwa situasi ini bukan pertama kalinya ia menghadapi tekanan sebagai pelatih. Ia menekankan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah kebersamaan dan persatuan tim. Namun, ia baru tiga bulan berada di kontrak empat tahun, sehingga tuntutan untuk segera membalikkan keadaan tetap besar.

Di level klub, ekspektasi sebenarnya sudah dinaikkan sejak awal tahun. CEO Newcastle United David Hopkinson pernah mengatakan klub bisa masuk dalam perdebatan sebagai klub terbaik di dunia pada 2030. Target itu kini terasa jauh, terlebih muncul anggapan bahwa ambisi pemilik asal Arab Saudi, Public Investment Fund, mulai kehilangan tenaga.

Kepercayaan Diri Tim dan Suara dari Dalam

Jamie Carragher, mantan bek Liverpool dan Inggris, mengaku sedikit khawatir dengan kondisi Newcastle. Menurutnya, Newcastle memiliki pelatih muda dan pemain muda, sehingga pertanyaan terhadap manajer akan selalu muncul ketika tim tidak menang. Ia memperkirakan musim ini akan berat, terutama karena performa di kandang terasa datar dan membosankan, padahal ia tidak pernah membayangkan Newcastle asuhan Jaissle tampil seperti itu setelah datang dari model Red Bull yang biasanya agresif dan menarik.

Kapten Dan Burn memahami frustrasi fans karena ia sendiri pernah menjadi pendukung. Ia merasakan kegelisahan di stadion dan mengakui bahwa ketidakpercayaan diri muncul ketika tim terus gagal menang. Menurut Burn, suasana seperti itu tidak memudahkan pemain membangun kepercayaan diri, meski ia menilai Newcastle cukup baik di antara dua kotak penalti, hanya saja tidak cukup kejam saat menyerang maupun bertahan di kotak sendiri.

Jaissle menggambarkan situasi ini hampir seperti spiral negatif dan mengakui timnya kekurangan keberanian dalam menguasai bola. Ia tidak puas dengan keputusan wasit, tetapi menegaskan Newcastle tidak tampil sesuai gaya mereka sepanjang 90 menit dan terlalu banyak memakai bola panjang. Ia juga menyebut ada momen ketika kepercayaan diri rendah, baik pada pemain muda maupun pemain berpengalaman, dan berjanji menganalisis kekalahan sebelum menghadapi Fulham.

Jadwal Berat dan Titik yang Harus Dibenahi

Sebelum jeda internasional November, Newcastle masih punya satu laga tandang ke Fulham pada Sabtu pukul 15.00 GMT. Setelah itu, mereka akan menjamu pemuncak klasemen sekaligus juara bertahan Arsenal pada 21 November, lalu tandang ke Brighton yang berada di peringkat ketiga delapan hari kemudian. Rangkaian ini menjadi ujian berat bagi Jaissle untuk menunjukkan bahwa ia bisa menemukan solusi.

Persoalan Newcastle terjadi di kedua ujung lapangan. Mereka hanya mencetak 12 gol dalam sembilan laga liga dan terus kesulitan menjaga gawang tetap bersih, sementara lawan juga terlalu mudah menciptakan peluang. Angka-angka itu menjelaskan mengapa kritik tidak hanya tertuju pada hasil, tetapi juga pada cara tim bermain dan keberanian mengambil risiko.

Jaissle menegaskan Newcastle harus memperbaiki banyak hal dan hanya bisa keluar dari situasi ini sebagai satu unit. Ia berencana menganalisis pertandingan secara detail dan mencari perbaikan sebelum melawan Fulham. Namun, dengan fans yang mulai kehabisan kesabaran, setiap laga berikutnya akan terasa seperti tekanan tambahan bagi pelatih dan pemain.

Kesimpulan

Krisis Newcastle United kini terlihat dari hasil, statistik, dan suasana di stadion. Kekalahan dari Everton memperpanjang tren buruk, memunculkan sorakan fans, dan menempatkan Jaissle di pusat tekanan. Masalahnya tidak tunggal: ada kesalahan individu, kesulitan mencetak gol, rapuhnya pertahanan, dan minimnya kepercayaan diri.

Newcastle masih punya peluang memperbaiki keadaan, tetapi jadwal melawan Fulham, Arsenal, dan Brighton tidak memberi banyak waktu. Jaissle perlu menemukan keseimbangan antara menjaga soliditas dan mengembalikan agresivitas yang diharapkan fans. Jika tidak, krisis Newcastle United bisa semakin dalam sebelum musim berjalan lebih jauh.

Tagged: