Rekonstruksi Villa Park membuat Aston Villa harus berjuang di kandang sendiri, dan pelatih kepala Unai Emery menolak menjadikannya sebagai alasan. Meski begitu, fakta di lapangan berkata lain: Villa belum sekali pun menang di kandang pada musim ini setelah ditahan imbang Brentford 2-2 pada Sabtu lalu. North Stand kini hanya berdiri sebagai kerangka baja dan ditutup untuk pekerjaan pembangunan, sementara klub mengejar target kapasitas stadion di atas 50.000 penonton.

Proyek itu merupakan bagian dari rencana klub untuk menutup kesenjangan finansial di Premier League, dan Villa tampaknya harus menerima rasa sakit jangka pendek demi keuntungan jangka panjang. Ujian berikutnya datang cepat karena Fenerbahce bertandang pada Rabu malam, saat sepak bola Liga Champions kembali hadir di Villa Park. Bersama tim Turki tersebut ada Marco Asensio, pemain yang mencetak delapan gol bagi pasukan Emery selama masa peminjaman sukses dari Paris St-Germain pada 2025, sekaligus pengingat akan kegagahan Villa ketika bermain di kandang.
Apa yang Sedang Terjadi di Villa Park
Tribun North Stand saat ini menjadi cangkang kosong dan ditutup karena pekerjaan konstruksi. Dampaknya langsung terasa pada kapasitas stadion yang turun menjadi sekitar 37.000 penonton, atau sekitar 7.000 tempat duduk hilang dari jumlah normal. Emery menyebut hal itu sebagai kerugian tersendiri, namun ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil oleh klub demi kemajuan di masa depan.
“Kerugian kami adalah berkurangnya jumlah suporter karena situasi ini, tetapi klub yang memutuskan hal itu. Ini adalah sesuatu yang akan memperbaiki kami untuk masa depan,” kata Emery. “Kami harus berusaha tetap bersatu dan tanpa 7.000 suporter kami harus mendorong semua orang. Kami harus bermain sepak bola yang lebih baik, bersaing lebih baik, dan lebih fokus. Itu semua lebih penting daripada tribun.”
Hasil di lapangan memang belum sesuai harapan. Arsenal dan Nottingham Forest sudah pulang dengan tiga poin dari Villa Park musim ini, sementara Brentford yang belum terkalahkan berhasil membawa satu poin. Gol penyeimbang Nicolas Jackson ke gawang The Bees bahkan menjadi gol pertama yang dicetak Villa di depan kerangka North Stand pada musim ini. Sepanjang musim, Villa baru mencatatkan satu clean sheet, dan pertahanan mereka kian sering goyah saat bermain di kandang.
Emery sendiri sempat melontarkan kata-kata keras ketika timnya kalah dari Nottingham Forest bulan lalu. Momen itu terbilang jarang, mengingat pelatih asal Spanyol tersebut biasanya lebih menahan diri di depan publik. Namun situasi yang sedang dijalani Villa membuatnya merasa perlu menyuarakan kekesalan secara lebih terbuka, meski ia tetap bersikeras bahwa timnya tidak boleh berlindung di balik kondisi stadion.
Dari Benteng Tak Terkalahkan Menjadi Rapuh
Masalah kandang Villa sebenarnya bukan hal baru. Sejak pergantian tahun, mereka kehilangan aura tak terkalahkan yang dibawa Emery sejak kedatangannya hampir empat tahun lalu. Antara November 2022 dan Januari 2026, Villa hanya kalah delapan kali dari 61 laga kandang di Premier League dan memenangi 44 di antaranya, termasuk 15 kemenangan beruntun antara Maret 2023 dan Desember 2023. Mereka juga sempat tidak terkalahkan selama 12 bulan di kasta teratas antara Agustus 2024 dan Agustus 2025.
Namun sejak awal tahun, catatan itu berbalik arah. Beberapa tanda kerapuhan Villa di kandang adalah:
- Kekalahan dari Everton, Brentford, Chelsea, dan Tottenham yang sempat mengancam posisi empat besar pada musim lalu.
- Gol-gol telat yang dibutuhkan untuk menahan imbang Leeds serta mengalahkan Brighton dan Sunderland.
- Tren buruk yang berlanjut ke musim ini seiring kapasitas Villa Park yang menyusut menjadi sekitar 37.000 penonton.
Pelatih Brentford, Keith Andrews, bahkan ikut menyoroti situasi tersebut dengan mengaku tidak menyukai bermain ketika ada satu tribun yang hilang. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kondisi stadion juga menjadi perhatian para lawan, bukan hanya pihak internal Villa. Artinya, berkurangnya kapasitas tidak hanya memengaruhi pemasukan klub, tetapi juga atmosfer yang dirasakan tim tamu.
Dampak Rekonstruksi Villa Park bagi Aston Villa dan Skuad
Emery sadar bahwa situasi ini tidak bisa dijadikan pembenaran. Ia menekankan bahwa timnya harus lebih kompak, bermain lebih baik, bersaing lebih keras, dan menjaga fokus, karena hal-hal itulah yang lebih menentukan daripada keberadaan satu tribun. Ia juga mengakui bahwa pekerjaan tim belum cukup baik, dengan banyaknya percakapan internal, pertemuan, sesi video, dan latihan yang dilakukan untuk memperbaiki penampilan dari pertandingan ke pertandingan.
Bek Matty Cash mengakui bahwa suasana memang berbeda, meski ia enggan terdengar seperti sedang mencari alasan. “Selama beberapa tahun terakhir, performa kandang kami luar biasa, terutama di Eropa. Kami perlu kembali ke sana,” ujarnya. Menurutnya, memperbesar tribun dan stadion adalah hal yang bagus, tetapi ia tidak akan berbohong bahwa keadaan saat ini berbeda dan para pemain tetap harus menghadapi apa yang ada di depan mata.
Meski begitu, Villa masih punya modal kuat di kompetisi Eropa. Di bawah Emery, mereka baru sekali kalah di kandang dalam laga Eropa, yaitu saat melawan Olympiacos di semifinal Conference League pada 2024. Emery juga mengakhiri penantian trofi klub dengan mengangkat gelar Europa League pada Mei, sebuah bukti bahwa Villa Park masih bisa menjadi tempat yang menakutkan bagi tim tamu ketika suasananya sedang menyala.
Ujian Fenerbahce dan Peluang di Liga Champions
Laga melawan Fenerbahce menjadi ujian berat bagi pertahanan Villa yang baru mencatatkan satu clean sheet sepanjang musim. Fenerbahce datang dengan modal mencetak 11 gol dalam dua pertandingan terakhir, termasuk kemenangan 8-0 atas Eyupspor yang sedang berjuang di dasar klasemen Super Lig Turki. Catatan itu jelas menjadi peringatan serius bagi lini belakang Villa yang belakangan mudah kebobolan di kandang.
Kedatangan Asensio menambah dimensi tersendiri pada laga ini. Pemain tersebut pernah mencetak delapan gol untuk Villa selama masa peminjaman dari Paris St-Germain pada 2025, dan mencetak gol lagi dalam kemenangan 3-0 Fenerbahce atas Rizespor pada Sabtu. Kehadirannya di Birmingham menjadi pengingat akan gaya permainan percaya diri yang dulu kerap ditunjukkan Villa di hadapan pendukung sendiri.
Setelah menang di kandang Club Brugge pada laga pembuka, dua kemenangan beruntun bisa membawa Villa ke jalur kualifikasi sebelum November meski persoalan kandang belum tuntas. Viking juga dijadwalkan bertandang ke Birmingham pada 21 Oktober dalam fase liga. Jadwal Eropa ini memberi Villa kesempatan untuk tetap kompetitif sambil perlahan membenahi performa mereka di kompetisi domestik.
“Ini ujian besar melawan tim yang bagus, tapi kami harus memenangi pertandingan seperti ini,” tambah Cash. “Itu standar yang kami tetapkan sendiri. Semoga kami bisa membuatnya berisik, berisik walau hanya dengan tiga tribun.”
Konteks Lebih Luas: Investasi Panjang vs Nyeri Jangka Pendek
Pembangunan Villa Park bukan sekadar soal mempercantik stadion. Peningkatan kapasitas hingga di atas 50.000 penonton disebut sebagai salah satu cara membantu klub menutup kesenjangan finansial di Premier League, terutama karena pendapatan dari hari pertandingan termasuk sumber yang bisa dikendalikan langsung oleh klub. Dengan kata lain, apa yang terjadi sekarang adalah investasi jangka panjang yang harus dibayar dengan kenyamanan jangka pendek.
Pola semacam ini juga lazim dialami klub-klub besar yang memutuskan merenovasi stadion sambil tetap berkompetisi. Penurunan kapasitas biasanya berdampak pada dua hal sekaligus, yaitu berkurangnya pemasukan tiket dan melemahnya tekanan suporter terhadap tim tamu. Keduanya hanya bisa dikompensasi lewat performa di lapangan, dan itulah tantangan yang kini dihadapi Emery beserta skuadnya.
Yang menarik, kekuatan Villa di Eropa justru bisa menjadi jalan keluar. Dengan format fase liga di Liga Champions, hasil-hasil positif di kandang mampu mempercepat kepastian lolos sebelum November tiba. Jika itu terwujud, tekanan psikologis di Premier League berpotensi berkurang, dan para pemain bisa lebih leluasa membangun kembali kepercayaan diri di hadapan suporter sendiri.
Singkatnya, rekonstruksi Villa Park memang bukan penyebab tunggal di balik kesulitan Aston Villa di kandang, tetapi pengaruhnya nyata. Kapasitas yang menyusut, atmosfer yang berkurang, dan pertahanan yang rapuh menciptakan kombinasi yang membuat Emery serta para pemainnya harus bekerja lebih keras untuk meraih kemenangan di Birmingham. Baik Emery maupun Cash sama-sama menegaskan bahwa alasan tidak bisa dijadikan tameng, dan perbaikan harus datang dari cara tim bermain.
Dalam waktu dekat, pertandingan melawan Fenerbahce akan menjadi tolok ukur yang jelas: apakah Villa mampu mengembalikan kegarangan di kandang meski stadionnya belum utuh. Jika hasilnya positif, proyek besar ini akan terasa lebih ringan untuk dijalani. Jika tidak, tekanan untuk segera memperbaiki performa domestik akan semakin besar sebelum tribun utara itu kembali berdiri penuh.




