Nama Stephen Welsh kini bukan lagi sekadar bek pelapis di bangku cadangan Celtic. Di usia 26 tahun, ia sudah mengantongi tiga caps bersama timnas Skotlandia, tampil sebagai bek yang tenang dalam bertahan, akurat dalam distribusi bola, dan meyakinkan saat berduet dengan pemain pendatang baru, Luis Binks. Selasa malam waktu setempat, ia berpeluang menambah caps keempat ketika Skotlandia menjamu Slovenia di Hampden Park, Glasgow, dengan kick-off pukul 19.45 BST.
Laga tersebut menjadi penutup jendela internasional kali ini sekaligus kesempatan Skotlandia menutup kamp dengan hasil positif. Konteksnya penting: Skotlandia baru saja melewati pengalaman buruk melawan Swiss, sementara kemenangan pertama di bawah asuhan pelatih kepala baru, Sebastien Pocognoli, baru saja diraih di Skopje. Bagi Welsh, momen ini adalah buah dari perjalanan panjang yang penuh liku, mulai dari akademi Celtic sampai ke puncak klasemen bersama Swansea.

Kemenangan Pertama yang Terasa Seperti Kelegaan
Saat peluit akhir berbunyi di Skopje, Sabtu malam, Welsh mengaku merasakan sesuatu yang lebih sederhana daripada euforia: kelegaan. Menurut dia, Skotlandia sebenarnya bisa mencetak jauh lebih banyak gol, bahkan lima atau enam gol pun dinilai bukan hasil yang berlebihan. Ia menyebut kemenangan pertama itu sebagai dorongan yang diharapkan bisa mengangkat performa tim ke depan.
Jalan menuju titik itu tidak mulus. Sebelumnya, Skotlandia mengalami laga yang nyaris berubah menjadi non-event melawan Swiss setelah Jack Hendry mendapat kartu merah di awal pertandingan. Skotlandia bertahan dan berjuang, tetapi akhirnya kalah 3-0, hasil yang disebut Welsh sebagai luka yang menyakitkan karena timnya harus menderita selama hampir 80 hingga 90 menit.
Beban mental dari kekalahan semacam itu diakui Welsh bisa berdampak besar. Namun ia menilai timnya membuktikan kekuatan mereka justru ketika menghadapi Makedonia Utara. Ia berharap Skotlandia bisa pulang ke Hampden, tampil baik, dan menutup kamp dengan kemenangan, karena standar itulah yang ingin mereka bangun secara konsisten.
Delapan Belas Tahun di Celtic yang Tak Selalu Manis
Ketika meninggalkan Celtic setelah 18 tahun penuh naik-turun, Welsh mengunggah video perpisahan yang menyentuh di media sosial sebagai bentuk terima kasih kepada klub. Video itu memuat rekaman dirinya saat masih kecil, mengenakan jersey Celtic dengan nomor punggung 18 dan nama “Lennon” tertulis di belakangnya, sedang bermain sepak bola indoor bersama teman-temannya. Dalam rekaman tersebut, ia digendong ibunya, tersenyum ke arah kamera, dan mengaku baru mencetak gol.
Perjalanan kariernya di Celtic berjalan naik-turun. Setelah menjalani debut pada musim semi 2020, klub terus mendatangkan bek tengah baru: Carl Starfelt dan Liam Scales, Cameron Carter-Vickers dan Yuki Kobayashi, Moritz Jenz dan Maik Nawrocki, hingga Gustaf Lagerbielke dan Auston Trusty. Total, Welsh hanya mencatatkan 70 pertandingan bersama Celtic, jumlah yang menurutnya tidak cukup.
Sebelumnya, ia sempat menolak tawaran dari Udinese dan Toulouse karena ingin bertahan dan memperebutkan posisi. Baginya, bermain rutin di klub masa kecilnya adalah skenario terbaik, meski kenyataannya tidak terjadi. Welsh mengaku bisa menerima situasi itu dengan lapang dada, karena di klub sebesar Celtic kompetisi internal memang selalu dijaga dengan mendatangkan pemain baru.
Namun, tahun-tahun itu tetap menuntut ketahanan mental. Welsh menyebut ada hal yang jarang terlihat publik, yaitu pentingnya lingkaran dukungan yang kuat: keluarga, teman, dan agen yang selalu ada. Menurutnya, tekanan psikologis bisa memengaruhi pemain, tetapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai serangan pribadi.
Motherwell dan Berthel Askou, Titik Balik Karier Stephen Welsh
Untuk mendapatkan menit bermain, Welsh sempat dipinjamkan ke Mechelen di Belgia sebelum akhirnya mengambil langkah besar ke Motherwell. Ia mengaku hanya butuh satu percakapan dengan Jens Berthel Askou untuk langsung tertarik. Dari luar, perpindahan dari Celtic ke Motherwell mungkin tidak terlihat mengesankan, tetapi langkah itulah yang membentuknya sebagai pemain.
Welsh menilai cara Berthel Askou melatihnya, baik di dalam maupun di luar lapangan, berada di level tertinggi. Ia baru benar-benar menyadari betapa tepat keputusan bergabung dengan Motherwell menjelang akhir musim, ketika pengakuan mulai datang. Semua itu, katanya, berkat cara sang pelatih membimbingnya.
Bagi Welsh, Berthel Askou adalah sosok yang memberinya kepercayaan diri murni dan membuat permainan terasa jauh lebih sederhana bagi seluruh tim. Ia menyebut sang pelatih sangat detail setiap hari, mulai dari cara menganalisis lawan hingga cara spesifik menghadapi tim tertentu. Welsh bahkan menilai Berthel Askou sebagai pengaruh terbesar dalam kariernya, yang sepenuhnya mengubah arah jalan kariernya.
Swansea, Kepercayaan Matos, dan Peluang di Timnas
Keputusan berikutnya, pindah ke Swansea, juga dinilai tepat. Di sana ia bertemu kembali dengan rekannya dari Motherwell, Elijah Just, dan bekerja di bawah manajer Vitor Matos yang menghargainya. Ruang ganti Swansea disebutnya bertalenta dan punya dorongan kuat untuk menang, dan hasilnya terlihat: tim itu memuncaki klasemen setelah delapan pertandingan.
Kepercayaan serupa datang dari Pocognoli di timnas Skotlandia. Welsh mengaku selalu menyimpan kemungkinan itu di belakang kepalanya: jika ia terus tampil baik di Motherwell lalu Swansea, sesuatu yang baik bisa terjadi bersama negaranya. Kini hal itu benar-benar terjadi, dan ia berhasil memanfaatkan momen tersebut.
Dampaknya bukan hanya soal jumlah caps. Kepercayaan dari tiga pelatih berbeda, yakni Berthel Askou, Matos, dan Pocognoli, menunjukkan bahwa konsistensi performa di level klub adalah pintu masuk utama ke tim nasional. Bagi Skotlandia, kehadiran bek seperti Welsh menambah opsi di lini belakang yang sebelumnya kerap bergantung pada pemain yang sama.
Mentalitas sebagai Faktor Pembeda
Dalam wawancaranya dengan Tom English di Lesser Hampden, Senin sore, Welsh menyoroti bahwa pemain terbaik secara teknis belum tentu mencapai puncak karier. Menurutnya, yang benar-benar bertahan di level tertinggi adalah pemain dengan kekuatan mental. Ia mencontohkan John McGinn dan Andy Robertson sebagai figur yang luar biasa secara teknis sekaligus tangguh secara mental.
Welsh menjelaskan bahwa tantangan terbesar seorang pesepak bola adalah menghasilkan performa setiap pekan, tampil dalam kondisi fisik yang siap, serta bersiap secara taktik, teknis, fisik, dan mental. Kemampuan untuk terus “mengeluarkan” performa itu, bukan hanya bakat semata, yang membedakan pemain bertahan lama dari yang mudah tergeser.
Pandangan ini relevan dengan tren yang lebih luas di Skotlandia, di mana banyak pemain memilih mencari menit bermain di klub yang lebih kecil atau di luar negeri demi membuka jalan ke tim nasional. Kisah Welsh memperlihatkan bahwa jalan memutar, termasuk pinjaman ke Belgia dan kepindahan ke Motherwell, bisa menjadi rute yang justru efektif.
Penutup
Perjalanan Stephen Welsh menunjukkan bahwa karier sepak bola jarang berjalan lurus. Dari anak kecil yang tersenyum mengenakan jersey Celtic bernomor 18, ia melewati 18 tahun penuh dinamika, hanya mencatat 70 pertandingan, lalu menemukan titik balik di Motherwell sebelum bersinar di Swansea dan menembus timnas Skotlandia.
Selasa malam melawan Slovenia bisa menjadi babak berikutnya: caps keempat, dan mungkin kemenangan kedua yang memperkuat posisinya di skuad Pocognoli. Bakat memang penting, begitu pula ketangguhan dan keberuntungan bertemu pelatih yang percaya, tetapi seperti dibuktikan Welsh, mimpi pemain yang lahir dari akademi klub besar tetap bisa terwujud lewat jalan yang tidak biasa.




