Jeremy Monga: Bintang Muda Man City yang Menolak Arsenal

Jeremy Monga resmi menjadi bagian dari Manchester City pada musim panas ini setelah The Citizens menebusnya dari Leicester City dengan biaya sekitar £10 juta. Remaja berusia 17 tahun itu langsung menjalani debutnya dalam laga uji coba melawan K-League XI di Seoul World Cup Stadium. Penampilannya di laga tersebut menjadi bukti awal mengapa City rela beradu cepat dengan Arsenal demi mendapatkan tanda tangannya.

Jeremy Monga

Kepindahan ini terbilang mengejutkan karena sebelumnya Arsenal disebut-sebut sebagai klub terdepan untuk merekrut Jeremy Monga. Namun, City yang kini ditangani mantan bos Leicester, Enzo Maresca, berhasil memenangkan persaingan. Keputusan ini dinilai sebagai langkah besar bagi pemain yang tercatat sebagai pemain termuda ketiga yang pernah tampil di Premier League.

Jeremy Monga Langsung Tampil di Laga Perdana Man City

Monga diturunkan Maresca dari bangku cadangan pada laga persahabatan yang berakhir dengan kemenangan 3-1 atas K-League XI. Tiga gol City diciptakan oleh Rayan Ait-Nouri, Tijjani Reijnders, dan Divin Mubama, yang seluruhnya tercipta dalam 23 menit pertama pertandingan. Meski hanya bermain sekitar 30 menit, Monga memperlihatkan kelincahan khas pemain muda di sisi sayap.

Ia bahkan nyaris mencetak gol dalam debutnya andai sebuah peluang dari jarak dekat tidak dianulir wasit karena handball. Beberapa menit berselang, sepakan melengkungnya juga masih mampu ditepis kiper lawan. Meski gagal membukukan namanya di papan skor, penampilannya di tengah cuaca panas Seoul itu cukup memberikan sinyal positif bagi para pendukung City.

Alasan Jeremy Monga Pilih City dan Tinggalkan Arsenal

Momen paling menarik dari kepindahan Monga adalah fakta bahwa ia nyaris bergabung dengan Arsenal. The Gunners, yang merupakan rival berat City di papan atas Premier League, sempat berada di posisi terdepan untuk mengamankan jasanya. Namun, pada akhirnya City yang bertindak lebih cepat dan berhasil membajak transfer tersebut.

“Ketertarikan Arsenal sangat kuat, karena saya memang sangat dekat untuk pergi ke sana,” ujar Monga kepada BBC Sport. “Keputusan utama mungkin ada pada jalur karier dan klub itu sendiri. Mereka begitu sukses sehingga tidak perlu berpikir dua kali ketika City memanggil. Mimpi setiap anak adalah memenangkan trofi dan berada di puncak bersama yang terbaik.”

Monga menegaskan bahwa ia melihat masa depannya lebih terjamin di City ketimbang di klub lain. “Begitu saya mendapat kesempatan, saya hanya perlu menunjukkan kemampuan saya, dan setelah itu semua akan berjalan dengan sendirinya. Secara pribadi, saya merasa lebih cocok di City. Saya melihat diri saya berseragam biru,” tambahnya. Kepercayaan diri ini menunjukkan bahwa keputusannya bukan sekadar mengikuti arus, melainkan hasil pertimbangan matang tentang arah kariernya ke depan.

Perjalanan Jeremy Monga: Dari Debut Premier League hingga Championship

Monga sejatinya sudah merasakan atmosfer Premier League sejak usia sangat belia. Ia menjalani debut di kasta tertinggi Inggris pada 7 April, saat Leicester kalah dari Newcastle United, dalam usia 15 tahun 271 hari. Namun, musim itu berakhir pahit karena Leicester harus terdegradasi ke Championship.

Musim berikutnya, Leicester justru kembali terdegradasi dan harus turun ke League One setelah menjalani kampanye yang buruk. Meski demikian, Monga tetap memandang pengalamannya di Leicester secara positif. Ia mencatatkan 30 penampilan pada musim lalu dan menyebut klub tersebut telah memberinya fondasi serta batu loncatan penting di awal kariernya.

Championship: Dunia yang Saling Memangsa

Selama berkarier di Championship bersama Leicester, Monga merasakan betul kerasnya persaingan di liga tersebut. Ia menggambarkan Championship sebagai liga yang sulit karena para bek lebih jarang memberinya waktu dan rasa hormat dibandingkan di Premier League. “Dunia Championship itu saling memangsa,” kata pemain timnas Inggris U-19 ini.

“Mereka lebih menekan saya, ingin bermain lebih fisik dengan saya, dan mereka tidak terlalu peduli dengan usia saya,” jelas Monga. Meski begitu, ia memilih untuk tidak berlarut-larut dalam sisi negatif pengalaman tersebut. “Saya tidak melihat sisi negatifnya. Saya melihat semua peluang yang mereka berikan kepada saya, dan saya bersyukur,” pungkasnya.

Jeremy Monga dan Hazard: Idola yang Ingin Ditiru

Sebagai pendukung setia Chelsea sejak kecil, Monga mengidolakan mantan bintang Belgia, Eden Hazard. Pemain kelahiran Coventry ini bahkan mengaku ingin meniru gaya permainan Hazard di atas lapangan. Saat Monga lahir pada Juli 2009, Hazard masih berstatus pemain muda di Lille sebelum kemudian meroket bersama Chelsea dan Real Madrid.

Deretan prestasi Hazard terbilang mentereng dan menjadi sumber inspirasi bagi pemain muda seperti Monga:

  • Dua kali juara Premier League bersama Chelsea.
  • Dua kali juara La Liga bersama Real Madrid.
  • Gelar Liga Champions pada 2022.
  • PFA Players’ Player of the Year dan FWA Footballer of the Year musim 2014-15.

“Yang paling saya kagumi dari Hazard adalah ketegasannya, caranya mengambil alih pertandingan dan mencoba memenangkan laga seorang diri, serta cara dia memperlakukan bola. Bahkan cara dia melindungi bola dari lawan dan bergerak di lapangan, semuanya ingin saya tiru,” ungkap Monga. Soal momen favorit, ia menyebut gol solo Hazard melawan Tottenham dan golnya ke gawang Liverpool sebagai yang paling membekas.

Jika Monga kelak mampu mewujudkan setengah dari pencapaian Hazard, maka kariernya dipastikan akan bersinar. Dengan kepercayaan Enzo Maresca yang pernah menukangi Leicester, plus fasilitas kelas dunia di Manchester City, semua elemen pendukung kesuksesan sudah tersedia. Kini tinggal bagaimana ia membuktikan bahwa keputusan menolak Arsenal demi bergabung dengan City adalah pilihan yang tepat.